kliping berita

Icon

Just another WordPress.com site

Curhat Pasien tentang BPJS

Saya PNS Golongan IV, Kok Diperlakukan Seperti Ini? Read the rest of this entry »

Filed under: Kesehatan, Politik,

Dukacita Hari Kesehatan Nasional 2015

Ditengah caci maki dan tuduhan ttg jeleknya perilaku dokter dengan gratifikasinya yg “menyebabkan” harga obat mahal, materialistisnya para dokter yg hanya memikirkan jasa medis yg “layak” dan banyaknya “tuduhan malpraktek” yg tidak jelas… teman kami, adik kami, saudara kami meregang nyawa melawan penyakit di medan pengabdian, menyusul sejawat2 lain yg lebih dulu pergi..  Read the rest of this entry »

Filed under: Dokter Indonesia, Kemanusiaan, Kesehatan, Politik

Curhat Dokter tentang BPJS #5: Gratifikasi

Yth Bapak/Ibu
Kepolisian
KPK 
Wartawan
dan Masyarakat luas.

Assalamu’alaikum wr. wb.

Beberapa hari ini, bahkan beberapa tahun terakhir tampaknya profesi yang saya geluti ini berulang kali mendapatkan cobaan. Mulai dari cercaan, hujatan dan tuduhan dari berbagai pihak mengenai bagaimana kami bekerja. Hampir seluruhnya berkaitan dengan uang, mulai dokter terkesan materialistis, masalah BPJS, sampai yang agak baru adalah masalah gratifikasi dari perusahaan obat.

Saya tidak memungkiri selalu ada oknum di semua profesi, demikian juga dengan profesi dokter. Namun, setiap mata uang pasti punya 2 sisi. Tampaknya sisi baik dari profesi dokter jarang sekali mendapatkan porsi yang setara dengan pemberitaan buruk. Saya bisa sangan mengerti, mungkin bagi wartawan ‘bad news is a good news’, namun sisi objektivitas dari sebuah pemberitaan juga tampaknya diperlukan untuk menggambarkan kondisi pelayanan kesehatan di negara ini.

Saya akan coba sedikit mengungkapkan sisi mata uang yang lain. Ilmu kedokteran selalu berkembang dan berubah, sayangnya semua perkembangan tersebut selalu berasal dari luar negara kita, sehingga siapapun profesional yang ingin meningkatkan pengetahuannya terpaksa harus menimba ilmu di luar negeri melalu simposium, workshop, fellowship dan banyak lagi cara lainnya. Sayangnya kebutuhan peningkatan ilmu yang cepat sekali ini tidak dibarengi oleh kemampuan RS tempat bekerja, maupun Pemerintah daerah/pusat dalam memberikan dukungan pendanaan.

Pernahkah bapak ibu bermimpi seorang putra bangsa berbicara di atas podium acara ilmiah internasional. Saya memimpikan itu bapak ibu sekalian, saya bermimpi seorang putra bangsa bisa menjadi salah seorang ilmuwan atau minimal dokter yg diakui oleh kalangan internasional. Alhamdulillah saat ini beberapa kali saya telah pernah mencicipi berbicara di depan orang2 bule seperti yang saya impikan walaupun baru dalam sesi ilmiah yang lebih kecil, namun mimpi tersebut tidak akan pernah padam saya akan terus berkarya demi mengharumkan nama bangsa. 
Namun untuk mencapai tingkatan itu jelas tidak mudah, bagaimana saya bisa mencapai level internasional kalau saya tidak pernah menghabiskan waktu belajar di luar negeri? Sementara perkembangan terbaru selalu berawal dari luar negri. Dalam 2 tahun terakhir, untuk mendalami bidang rekonstruksi Urethra saya menghabiskan waktu 3 bulan di India, untuk belajar Endourology saya harus keliling Singapura dan Turki. Untuk mempresentasikan data ilmiah saya harus berangkat ke Jepang, Australia dan Inggris. Apakah semua perjalanan ini dibantu oleh dana dari Pemerintah? Jangankan dana pengembangan ilmu, untuk memenuhi kebutuhan hidup saja gaji seorang dokter PNS masih jauh dari cukup. 
Sehingga bagaimana saya bisa membiayai semua perjalanan saya? Jawabannya jelas uang pribadi dan sponsor. Uang pribadi yang saya dapatkan dari pekerjaan saya di RS swasta saya sisihkan untuk kepentingan pengembangan ilmu, namun kalau hanya mengandalkan uang pribadi dalam beberapa bulan keluarga saya pasti kelaparan, sehingga saya harus akui saya dibantu oleh beberapa sponsor. Terus terang, selama ini saya tidak pernah menggunakan bantuan sponsor dalam bentuk yang tidak berkaitan dengan kegiatan ilmiah. Bayangkan berapa ratus juta yang harus saya keluarkan per tahunnya hanya untuk menjadi lebih pintar dan setara dengan bangsa2 lain di dunia.
Insya Allah saya masih bekerja dengan hati nurani saya, kepentingan pasien adalah yg saya selalu utamakan. Apakah saya dipengaruhi oleh perusahaan obat untuk menulis produknya? Saya bisa bilang tidak, obat yang saya tulis selalu karena memang ada indikasi untuk diberikan, dan itu pun disesuaikan dengan kemampuan pasien tersebut.

Bapak ibu sekalian, kalau memang kami tidak perlu berinvestasi belajar di luar negeri karena menghabiskan uang sebesar itu, maka pertanyaanya akan saya kembalikan kepada bapak ibu sekalian. Ketika manusia di negara lain bisa mendapatkan pelayanan mutakhir di negaranya, apakah manusia rakyat Indonesia harus puas dengan pelayanan kesehatan yang sudah tertinggal bertahun2 dibandingkan dengan negara lain?
Alhamdulillah hasil nyata ilmu yang saya pelajari telah saya dapatkan, banyak pasien yang awalnya menduga tidak ada harapan, namun sekarang telah menjalani hidup normal kembali. 
Pernahkan wartawan dengan sukarela memberitakan keberhasilan Transplantasi ginjal di Indonesia, pernahkan memberitakan tentang pasien2 yang berhasil diselamatkan oleh para dokter di indonesia? Pernahkah wartawan menulis sisi dokter dalam pengelolaan jasa medis dan BPJS di RS? Berita ini menjadi tidak menarik karena berita pasien BPJS ditolak atau kasus dugaan malpraktik lebih menjual dibandingkan kedua kondisi diatas.

Mari lah kita berpikir bijak, oknum memang ada, namun jangan cap kami semuanya sebagai koruptor atau kriminal hanya karena kami ingin dan butuh dibantu untuk belajar dan mengembangkan keilmuan kami demi pelayanan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Masih banyak diantara dokter Indonesia yang punya semangat yang sama dengan saya, jangan karena praduga dan aturan yang tidak berdasar masyarakat yg menjadi korban karena kami para dokter di Indonesia tidak dapat mengembangkan kemampuan dan keilmuannya. Kewajaran yang sangat relatif itu lah yang harus bisa didefinisikan dalam peraturan tanpa harus menghambat semangat setiap dokter untuk terus belajar dan berkarya. 
Kecuali Pemerintah dapat mendukung semua pendanaan dalam pengembangan profesi masing-masing dokter, maka sulit kami belajar tanpa bantuan dari beberapa pihak non-Pemerintah.

Sedikit curhat dari seorang anak bangsa yang masih bangga menjadi dokter

Wassalamualaikum wr. wb.

Paksi Satyagraha 
Anak dan cucu dari 2 orang nasionalis sejati

Read the rest of this entry »

Filed under: Dokter Indonesia, Medikolegal, Politik, ,

Rupiah Melorot, Harga Obat Siap Naik

95 persen bahan baku industri farmasi diperoleh dari impor.

Read the rest of this entry »

Filed under: Kesehatan, Politik, ,

Surat Terbuka Rieke Diah Pitaloka

Senin, 23 Maret 2015 | 11:45 | http://www.kabarumat.com

Harusnya dengan latar belakang partai yang sama tak sulit bagi Rieke untuk berkomunikasi dengan presiden RI. Uniknya, ia harus menulis sebuah surat terbuka yang menceritakan kegundahannya. Dalam surat yang bisa diakses publik itu ia menilai Jokowi telah lalai terhadap persoalaan Jamkesmas. Banyak pasien peserta Jamkesmas yang meninggal dunia karena tak tertangani dengan baik oleh pihak rumah sakit. Seakan sia-sia rakyat menjadi peserta Jamkesmas karena ketika tiba di rumah sakit mereka harus merogoh uang yang tak sedikit. Read the rest of this entry »

Filed under: Kemanusiaan, Kesehatan, Politik,

Surat Terbuka Rieke: Tagih Janji Kesehatan Jokowi

Selasa, 24 Maret 2015, 19:13 WIB | 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka mengirim surat terbuka pada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia meminta Jokowi menepati janji kampanyenya terkait kesehatan rakyat.

Surat ini dilayangkan menyusul adanya beberapa pasien yang meninggal karena tidak jelasnya jaminanan kesehatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).  Read the rest of this entry »

Filed under: Kesehatan, Politik,

Dokter Fanny Hondrö Menangis Saat Tuntut Gajinya Dibayarkan

26/03/2015 | http://www.nias-bangkit.com

TELUKDALAM, NBC — Dokter yang bekerja di lingkup Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan, dr. Fanny Hondrö, Sp.A, menangis saat menyampaikan tuntutannya soal gajinya yang belum dibayarkan Read the rest of this entry »

Filed under: Dokter Indonesia, Kemanusiaan, Kesehatan, Politik,

Curhat Dokter tentang BPJS #3

Lucu atau Menyedihkan?

Obrolan Residen Sehabis Jaga

Petugas : “Dok plafon pasien ini sudah habis untuk di UGD. Dokter harus pilih antara pesan EKG atau foto Thorax.”
Dokter : “Apa ga bisa dua duanya diperiksa?”
Petugas : “Bisa dok, asal dokter buat protokol terapinya dulu.”
(Saat pasien dah numpuk, laporan blum beres).
Dokter : EKG saja kalo begitu
Kesimpulannya : Infark Miokard (Serangan Jantung) dengan ST Elevasi (STEMI, onset 3 jam).
Dokter : (setelah menyingkirkan kontraindikasinya) – Kasih Streptase
Petugas : Dok obatnya tidak ada.
Konsulen Jaga : Masa iya obatnya tidak ada di RSHS!! Cari!
Ternyata setelah konfirmasi ulang ya, memang obatnya tidak ada sejak awal tahun.
GILA, Read the rest of this entry »

Filed under: Kemanusiaan, Kesehatan, Politik

US-Business Council Sampaikan Dukungan ke Kemenkes

JUM’AT, 15 NOVEMBER 2013 , 10:04:00

JAKARTA – Para pengusaha dan investor asal Amerika, yang tergabung dalam US-ASEAN Business Council menyatakan dukungannya atas langkah pemerintah dalam meraih tujuan Indonesia Sehat dan pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hal itu terungkap dalam pertemuan antara Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi dengan delegasi US-ASEAN Business Council kemarin.

“Sebagai pihak swasta, kami ingin menyelaraskan bisnis kami dengan kebijakan pemerintah. Dengan demikian, kami bisa lebih mendukung pemerintah. Untuk itu, kami berharap dialog seperti ini dapat dilakukan lebih intensif,” Read the rest of this entry »

Filed under: Kesehatan, Politik

Hadapi Serbuan Dokter Asing, Menkes Siapkan Strategi

SABTU, 16 NOVEMBER 2013 , 08:23:00 | m.jpnn.com

JAKARTA – Menjelang datangnya ASEAN Economic Community pada tahun 2015, Menteri Kesehatan Nafsiah telah menyiapkan startegi untuk melindungi dokter-dokter Indonesia dari serbuan dokter asing. Menkes mengatakan akan menaikkan standar masuk bagi seluruh dokter asing yang ingin masuk ke Indonesia. Read the rest of this entry »

Filed under: Kesehatan, Politik