kliping berita

Icon

Just another WordPress.com site

Dukacita Hari Kesehatan Nasional 2015

Ditengah caci maki dan tuduhan ttg jeleknya perilaku dokter dengan gratifikasinya yg “menyebabkan” harga obat mahal, materialistisnya para dokter yg hanya memikirkan jasa medis yg “layak” dan banyaknya “tuduhan malpraktek” yg tidak jelas… teman kami, adik kami, saudara kami meregang nyawa melawan penyakit di medan pengabdian, menyusul sejawat2 lain yg lebih dulu pergi.. 
Adakah yg peduli wahai pembuat kebijakan??
Ingatlah bahwa aturan, kebijakan, dan segala pemikiran yg anda buat, akan anda pertanggungjawabkan di akhirat nanti..

Selamat Hari Kesehatan Nasional#duka cita yg mendalam untuk negeri ini

Semoga hari ini tak ada lagi korban baik dari sisi pasien, dokter dan tenaga kesehatan lain atas lemahnya sistem di negeri ini.. 

*

Ramainya media sosial di whatsapp, Facebook, IG, Twitter dari para sejawat dokter memberitakan dan mengadvokasi wafatnya saudara sekandung kami, dokter internship dr. Andra, bukan pejabat di antara kami, namun pahlawan di masyarakat. Bahkan banyak di antara kami memutuskan memakai pita hitam. Ini menegaskan kembali: profesi dokter punya masa depan. Profesi dokter terdepan dalam persaudaraan. Meskipun kami jarang harus dikumpulkan dan reorientasi dalam apel pagi malam, jiwa korsa kami setara dengan militer & polisi. Keringat kemanusiaan sudah cukup menyatukan hati kami, meskipun tanpa harus menyatukan fisik kami. Profesi dokter tak akan mempan bully & adu domba. Lebih baik menyerah sajalah kalian yang punya agenda buruk kepada kami. Sumpah saudara sekandung telah terpatri menghujam. 
Selamat jalan dr. Andra, selamat jalan pahlawan kesehatan. Engkau mungkin disia2kan bangsa yang masih sering khilaf menyia2kan jasa para pahlawan pengisi kemerdekaan seperti dirimu, dengan mengupahmu di bawah standar & tidak memproteksimu dengan baik, sebagaimana kami saudara sekandungmu ini masih sering disia2kan. Namun yakinlah, Tuhan tidak akan menyia2kan kita. Mudah2an kelak semua dokter Indonesia bisa bikin reuni & seminar bersama di surga Nya. Dengan Coffee break, Lunch, dinner terbaik yang pernah ada, dan materi kesejawatan terindah melebihi yang kita bayangkan.

Mari berdoa di hari yang katanya adalah hari kesehatan nasional, agar berkah, rahmat Allah, lindungan sehat Nya, selalu memayungi langkah pengabdian dokter Indonesia. Dan agar negara, dibuka mata hatinya untuk tidak menyia2kan profesi dokter & tenaga kesehatan. Aamiin

 

*

Telah Meninggal dunia. dr. Dionisius Giri Samudra (Andra) dokter Internsip penempatan RSUD Cenderawasih Dobo Kep. Aru. Penempatan periode Mei Tahun 2015, karena Encephalitis Post Morbilli. Meninggal di RS Dobo jam 18:16 WIT. Rencana evakuasi jenazah akan dilakukan besok atas koordinasi Pemda Kab Kep. Aru dan Pemda Kab Tual.

*

Tak Ada Biaya Evakuasi, Dokter Muda Ini Dikabarkan Meninggal Saat Bekerja di Kepulauan Aru

Kamis, 12 November 2015 | 06:15 WIB
AMBON, KOMPAS.com — Dionisius Giri Samudra, dokter yang sedang mengikuti program magang di RS Cenderawasih, Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, dikabarkan meninggal dunia di lokasi tugasnya.

Selamat jalan Dr. Dionisius Giri Samudra. Satu lagi dokter meninggal di tempat tugas,” demikian ditulis Bambang Budiono, dokter Rumah Sakit Awal Bros, Makassar, Sulawesi Selatan, lewat akun Facebook-nya, Rabu (11/11/2015) sekitar pukul 18.25 Wita.

Sebelum dikabarkan meninggal dunia, dokter muda asal Makassaritu menderita demam ditambah penurunan kesadaran dan trombositnya. 

Dia tak dapat ditangani dokter di tempat kerjanya karena fasilitas yang sangat terbatas sehingga harus dirujuk. Dia dirujuk setidaknya ke rumah sakit di Makassar, kampung halamannya.

Sejumlah rekannya sesama dokter telah berusaha mencarikan solusi agar Dionisius cepat dirujuk, tetapi sulitnya alat transportasi menjadi kendala.

Perjalanan dari Dobo, ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru, ke Ambon, ibu kota Provinsi Maluku, jika menggunakan pesawat udara membutuhkan waktu hingga 3,5 jam.

Namun, jadwal penerbangan dari Dobo menuju Ambon tidak menentu. Jika menggunakan kapal laut maka waktu tempuh akan jauh lebih lama. 

Namun ada kendala dalam hal biaya untuk evakuasinya…selain itu juga mengenai pesawat yang akan menjemput ke sana…,” tulis dokter Bambang masih melalui akun Facebook-nya.

Jika dokter Dionisius harus dievakuasi menggunakan biaya sendiri, dipastikan sangat sulit. Sebab, berdasarkan informasi yang diperoleh, gaji dokter peserta program magang hanya sekitar Rp 2,5 juta.

Dionisius mulai bertugas di RS Cenderawasih pada Juni 2015, sesuai informasi yang diunggah lewat akun Facebook-nya.

*

Kamis 12 Nov 2015, 12:59 WIB

Kisah Tragis Dokter Muda

Menkes: Penyakitnya dr Andra Berat, ini Bukan Soal Fasilitas Rumah Sakit

Aditya Mardiastuti, – detikNews
Jakarta – Seorang dokter muda, Dionisius Giri Samudra meninggal saat bertugas di Kota Dobo, Kepulauan Aru, Maluku. Menkes Nila F Moeloek sudah mendapat laporan. Menurut Menkes penyakit yang diderita dokter muda yang akrab disapa Andra memang berat.

“Tentu beliau, almarhum ini mendapat penyakit yang cukup berat, saya baru mendengar sakitnya tapi belum resmi infeksi otak tidak mudah untuk mengatasi penyakitnya,” jelas Nila di depan Auditoriun Prof. Dr.GA Siwabessy, Kemenkes, Jakarta, Kamis (12/11/2015).

Menurut Nila, penyakit yang diderita Andra sudah menyerang otak. Sulit menangani bila sudah menyerang ke otak.

“Jadi kalau memang saya, juga belum jelas apa karena morbili, demam berdarah atau yang lainnya tapi yang jelas kalau terkena ke otak itu berat,” terangnya.

Nila juga menepis soal alasan transportasi dan sarana di rumah sakit yang kurang.

“Tadi saya ngomong RSnya bagus, jangan dibalik. RS di Dobo itu baik, dan banyak spesialisnya. Bahkan tadi saya dilaporkan bahkan yang harusnya tipe D itu masuk ke tipe C karena banyak internisnya,” urai dia.  

“Kita tidak akan mengirim internis ke RS yang tidak lengkap, karena mereka belajar. Mereka belajar harus punya pendamping, ngapain saya kirim orang belajar tapi tidak ada pendampingnya belajar apa saya di sana, nggak mungkin,” tutup dia. 
(dra/dra

 
*

Bekerja dalam diam
Pengabdian di tempat yang jauh dari hingar bingar peradaban
Menjadi dokter adalah sebuah perjuangan

Advertisements

Filed under: Dokter Indonesia, Kemanusiaan, Kesehatan, Politik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: