kliping berita

Icon

Just another WordPress.com site

Dokter Fanny Hondrö Menangis Saat Tuntut Gajinya Dibayarkan

26/03/2015 | http://www.nias-bangkit.com

TELUKDALAM, NBC — Dokter yang bekerja di lingkup Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan, dr. Fanny Hondrö, Sp.A, menangis saat menyampaikan tuntutannya soal gajinya yang belum dibayarkan selama 2 bulan dan dana kapitasi melalui kartu Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial sejak Januari 2014, Senin (23/3/2015), pada saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD dan Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan. Kejadian ini juga diakui terjadi oleh dr Julius Hutabarat yang ikut RDP.

Pantauan NBC dan sejumlah wartawan, dr Fanny Hondrö, disaksikan oleh sejumlah pimpinan dan anggota DPRD Nias Selatan saat menangis menuntut hak kepada Pemerintah Kabupaten Nias Selatan melalui Dinas Kesehatan.

“Selama ini, saya sudah melaksanakan tugas dengan baik, masa gaji saya selama 2 bulan dan dana kapitasi selama 15 bulan terhitung sejak Januari 2014 belum terbayarkan oleh Dinas Kesetahan dan saya juga belum pernah mendapatkan dana insentif daerah,” ujar Fanny di hadapan pimpinan dan sejumlah anggota DPRD Nias Selatan. (Baca: Sejak Januari 2014, Pemkab Nias Selatan Belum Cairkan Dana Kapitasi Dokter)

Fanny mengaku, selama gaji dan dana kapitasi dokter tersebut tidak dibayarkan oleh Dinas Kesehatan ekonomi keluarganya menjadi terganggu karena selama bekerja hanya memakai uang pribadi saat turun ke lapangan.

“Saya hanya berharap kepada Pemerintah Kabupaten Nias Selatan supaya dapat segera membayarkannya karena kami juga butuh makan untuk menghidupkan keluarga kami,” kata Fanny sambil meneteskan air mata.

Ada Temuan BPK

Menanggapi hal demikian, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan Murniati Dachi mengatakan bahwa tidak dibayarkannya insentif daerah karena sudah menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan. Ia juga meminta para dokter untuk mengembalikan insentif yang sudah dibayarkan.

“Sekarang kan insentif daerah yang diberikan kepada dokter selama ini sudah menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan kalau juga mereka masih mau menuntut supaya para dokter mengembalikan dana insentif yang sudah dibayarkan selama ini biar tidak menjadi temuan BPK,” ungkapnya saat memotong pembicaraan Fanny.

Selanjutnya, Murniati mengatakan bahwa dr Fanny Hondrö tidak mendapatkan insentif daerah karena pada saat sekolah dibiayai oleh Badan Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR).

“Kami juga minta kepada para dokter supaya dapat bersabar, pasti apa yang menjadi hak kalian tetap dibayarkan. Kita tunggulah pencairan APBD tahun 2015 dan peraturan Bupati serta juknis pembayarannya,” kata Murniati.

Terkait temuan BPKP terkait dana insentif daerah, NBC masih menelusuri dan memintai konfirmasi kepada Dinas Kesehatan Nias Selatan.

Sementara itu, terkait kasus belum dibayarkannya hak-hak dokter di Nias Selatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sumatera Utara berkunjung ke IDI Cabang Nias untuk menyamakan sikap yang akan ditempuh. “Kami mengundang sejawat untuk bersama mengambil sikap perihal kasus yang menimpa para dokter di Nias Selatan. Kami mengundang rekan-rekan pers mengikuti acara ini pada Jumat, 27 Maret 2015, pukul 11.30 di Sekretariat IDI, Jalan M Yamin No 3, Afilaza, Gunungsitoli,” kata dr Fatolosa Pardomuan Panjaitan, Ketua IDI Cabang Nias. [HER]

Advertisements

Filed under: Dokter Indonesia, Kemanusiaan, Kesehatan, Politik,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: