kliping berita

Icon

Just another WordPress.com site

Harga Obat Tinggi, Dokter Sasaran Tembak

Oleh : Badrul Munir

Bagi lulusan SMA dulu (mungkin sekarang) bisa kuliah di fakutas kedokteran adalah satu prestise tersendiri, apalagi bisa kuliah di FK PTN ternama di Indonesia dengan jalur SMPTN berati telah memenangkan persaingan yang ketat dengan ribuan peserta yang berharap mimpi yang sama yakni kuliah di FK. Dan pada kenyataannya sebagian besar mahasiswa FK PTN di antara mereka adalah siswa siswa yang berprestasi di sekolahnya masing-masing.
Setelah diterima melalui seleksi mahasiswa, maka dimulailah perjuangan agar bisa menyelesaikan tahapan demi tahapan perkuliahan yang padat dan melelahkan, saking padatnya beban kuliah maka tidak jarang mahasiswa FK dijuluki mahasiswa kuper, kutu buku dan tidak aktif di organisasi kemahasiswaan.
Biaya yang harus ditanggung oleh orang tua mahasiswa pun tidak murah apalagi bila FK Swasta. FK PTN pun mahal seiring dengan berubah PT menjadi Perguruan Tinggi berbadan hukum bahkan kadang tidak dapat dijangkau oleh sebagian kalangan masyrakat.
Pengorbanan yang berat dan biaya yang besar tersebut tidak akan menyusutkan keinginan sebagian keluarga Indonesia untuk mengkuliahkan anaknya di FK dengan harapan bisa mengangkat status sosial dan tentunya ekonomi keluarga tersebut. Rasanya belum lengkap kebanggaan keluarga kalau belum ada salah satu anggota keluarga yang belum menjadi dokter.
Namun apa yang bisa kita lihat akhir akhir ini; Profesi dokter terus mendapat sorotan dan sasaran yang tembak yang empuk oleh sistem kesehatan yang terus berubah dan kapitalisasi kesehatan di Indonesia
Sorotan yang terakhir adalah tingginya harga obat yang harus ditanggung oleh pasien akibat permainan dokter dan perusahaan farmasi, bahkan ada yang mengatakan dokter indonesia kaya dengan memiskinkan pasiennya, atau dokter tidak mempunyai rasa kemanusiaan dengan bermain obat dan lainnya
Tulisan ini bukan untuk menyangkal opini di masyarakat yang berkembang akan tetapi lebih melihat secara holistik sebuah masalah. Memang tidak bisa kita pungkiri banyak masyarakat yang mengeluh tentang mahalnya harga obat di Indonesia, bahkan terjadi perbedaan harga yang mencolok antar apotik satu dengan apotik lainnya.
Berbagai analisa dikemukakan dan pada akhirnya banyak yang menuduh dokterlah yang paling bertanggung jawab karena dokter yang menulis resep obat tersebut.
Pada kenyataanya dalam hal menentukan harga obat tentunya banyak faktor yang memmpengaruhi mulai, dari biaya produksi, biaya distribusi dan biaya promosi ditambah pajak penjualan.
Biaya produksi merupakan biaya terbesar dalam sebuah harga barang termasuk obat, menurut para pengusaha industri farmasi bahan baku obat kita masih 90% impor, dengan menghabiskan dana Rp.33,8 trilyun setiap. bahan baku impor tersebut sebagian didatangkan dari China dan india (60%), sampai saat ini kita belum bisa menyediakan bahan baku walaupun usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia, Karena impor maka harga yang didapatkan relatif mahal yang sangat bergantung pada krus dollar.
Biaya lain adalah distribusi obat semakin panjang jalur distrbusi maka semakin besar biaya yang harus ditanggung, sedangkan biaya lainnya adalah promosi,
Biaya promosi menurut beberapa pengusaha farmasi berkisar antara 10-15% dari harga obat, biaya promosi ini pada umumnya digunakan untuk mengadakan/mensuport acara ilmiah kedokteran agar obat terebut dikenal dan dipakai oleh para dokter, dan disinilah ada upaya para marketing perusahaan farmasi untuk berkompetisi agar obatnya dipakai oleh dokter tersebut.
Tetapi dalam kenyataan dunia bisnis selalu ada jalan pintas dan jalan lain demi memenangkan kepentingan bisnisnya, dan dalam profesi dokter pun ada oknum dokter yang nakal dengan menjalin kerja sama yang tidak sesuai dengan etika kedokteran yang mengatakan meletakan kepentingan pasien diatas kepentingan pribadi atau golongan.
Tetapi yang menjadi masalah benarkah mahalnya harga obat dikarenakan murni karena permainan dokter? inilah yang perlu diluruskan karena kompenen utama harga obat terletak di proses produksi dengan bahan baku impor, andaikata pemerintah mampu menggunakan bahan baku dalam negeri pasti harga obat turun dan terjangkau oleh masyarakat.
Hal ini bisa kita asumsikan dengan seseorang yang tidak menjaga kesehatan dengan baik, dia seorang perokok bahkan minum alkohol, pola makan tidak dijaga sehingga badannya gemuk dan timbulkan sindroma metabolik seperti hipertensi, kencing manis dan lainnya. bahkan yang lebih ekstrim dia melakukan seks resiko tinggi sehingga terkena HIV. dan dalam perkembangannya dia tertular penyakit flu dari teman kerjanya. Dan yang disalahkan adalah teman kerjanya yang kebetulan terkena influenza dan menular ke penderita, kemudian terus menerus menyalahkan teman kerjanya. Padahal masalah utamanya ada pada rendahnya daya tahan tubuh akibat kecerobahannya sendiri.
Obat generik dan Harga eceran tertinggi
Pemerintah sebenarnya sudah memberikan solusi yang baik tentang masalah harga obat dengan memberikan harga obat tertinggi (HET), dengan HET pasien tidak dirugikan karena mendapat harga wajar dan pengusaha serta apotik tetap mendapat untung karena mereka adalah pebisnis tentunya mecari keuntungan, sebagai masyarakat bilamana ada apotik yang menjual harga diatas HET pasti tidak akan membeli apotik tersebut dan akan ditinggalkan oleh pembelinya.
Peraturan pemakaian obat genetik juga sangat bagus untuk menekan harga obat, hal ini karena obat generik dibebaskan dari beberapa seperti pajak dan lainnya sehingga harganya akan tetapi pada pelaksanaannya aturan ini ibarat macan ompong yang tidak mampu memberi sanksi tegas atas ketidakberesan pelaksanaan aturan itu.
Pada akhirnya kita harus melihat sebuah masalah (baca harga obat) dengan sudut pandang yang luas, menyalahkan satu pihak seolah mencari kambing hitam adalah tindakan yang kurang bijaksana dan tidak solutif.

Penulis :
dr. Badrul Munir Sp.S
Dokter spesialis saraf RS Saiful Anwar /FK UB Malang

Advertisements

Filed under: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: