kliping berita

Icon

Just another WordPress.com site

Dokter Malpraktek : Pidana atau Perdata?

Oleh : Badrul Munir

Masih ingat dengan meninggalnya secara mendadak penyanyi superstar Michael Jackson di tahun 2009?. Adalah dokter pribadinya yang bernama dr. Conrad Murray telah divonis bersalah oleh hakim pengadilan Los Angeles dan harus mendekam selama 4 tahun penjara, di akhir bulan oktober 2013 dr. Conrad Murray menghirup udara bebas setelah menjalani lebih dari separuh masa tahanannya.
Yang menarik dari kasus ini adalah 7 panel hakim membutuhkan waktu 2 hari untuk mengambil keputusan dengan mendatangkan para ahli kedokteran agar putusan tidak salah, dan dari hasil panel para hakim memutuskan dokter pribadi Machael Jakcson dinyatakan bersalah karena menyuntikan obat propofol (obat anestesi yang menyebabkan tidur dan menghilangkan rasa sakit) di luar rumah sakit. Dari penyelidikan didapatkan sebenarnya Micheal Jackson sendiri yang menambah dosis propofol tanpa sepengetahuan dokter pribadinya. Namun apapun yang terjadi dokter pribadinya telah divonis melakukan malpraktek.
Dalam beberapa minggu ini dunia profesi dokter di Indonesia merasa “galau” dengan putusan Mahkamah Agung (MA) no 365.K/pid/2012 yang memberi hukuman 10 bulan penjara tiga dokter ahli kandungan di Manado dengan alasan melakukan malpraktek, keputusan MA tersebut sekaligus menggugurkan keputusan pengadilan tinggi Manado sebelumnya yang menyatakan ketiga dokter bebas dari tuntutan malpraktek. Walaupun terpidana berencana akan melakukan peninjauan kembali (PK) akan tetapi kejaksaan Manado telah mengeksekusi mereka ke dalam penjara.
Malpraktek didifinisikan peraktek kedokteran salah atau tidak sesuai dengan standar profesi atau standar operasional. Sebenarnya istilah malpraktek tidak dikenal dalam hukum positif kitab undang-undang pidana (KUHP). Tetapi istilah malpraktek medis bisa kita dapatkan di undang-undang no 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan undang undang no 29 tentang praktek kedokteran Indonesia.
Malpraktek dalam dunia kedokteran dibagi menjadi 3 macam; malpraktek kriminal, malpraktek sipil dan malpraktek administrasi. Malpraktek kriminal terjadi bilamana seorang dokter telah melanggar hukum dan menyebabkan dia dituntut negara secara pidana, contoh konktrit dokter yang melakukan aborsi tanpa indikasi medis (abortus provocatus criminalis). Sedangkan malpraktek sipil ; bilamana dokter karena pengobatannya dapat mengakibatkan pasien meninggal atau luka tetapi tidak melanggar hukum pidana, sedangkan malpraktek administratif bilamana seorang dokter tidak mempunyai surat ijin praktek/surat tanda registrasi dan lain-lain. Pelanggaran ini akan dikenai sanksi pidana, perdata dan administratif.
sebagai seorang dokter dan tidak paham betul akan pelaksaaan hukum pidana dan perdata di Indonesia. Akan tetapi menilik kasus dokter kandungan di Manado didapatkan miskomunikasi dokter-pasien dimana keluarga pasien tidak mendapat informasi tentang lengkap resiko terjelek dari tindakan operasi. Dan dalam kenyataannya pasien meninggal akibat komplikasi operasi yang bisa terjadi siapapun (emboli paru). Menurut penjelasan majelis kehormatan kedokteran indonesia (MKKI) para dokter tersebut hanya lalai dalam hal komunikasi dengan keluarga pasien. Layakkah seperti ini harus dijebloskan ke penjara?
Para dokter tersebut tidak melakukan malpraktek kriminal dan malpraktek administrtif, dan terbukti melakukan malpraktek sipil, jadi seharusnya MA menggunakan UU kesehatan dan UU praktek kedokteran dalam memutus kasus ini dengan hukuman perdata, bilamana menggunakan KUHP maka yang dipakai adalah pasal 359 yang berisi kelalaian yang menyebabkan kematian orang lain.
Padahal para dokter tersebut justru berusaha menyelamatkan 2 nyawa dalam kondisi kritis hanya saja ada beberapa prosedur yang tidak dilakukan, termasuk pemeriksaan rekam jantung dan rongsen dada, hal tersebut bisa terjadi karena kondisi pasien gawat dan operasi segera dilakukan secepatnya apalagi umur pasien dibawah 40 tahun sehingga pemeriksaan tersebut bukan sesuatu yang wajib.
Momen yang menyatukan
Kejadian penangkapan dr ayu menjadi mementum bagi para dokter untuk menyatukan semangat krosa para dokter yang selama ini hanya diam dan tidak peka terhadap perlakuan terhadap dokter selama ini. diperlukan rasa kebersamaan yang tinggi dan terus menerus yang perlu ditingkatkan.

Penulis :
Dr. Badrul Munir Sp.S
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya /
Dokter spesialis saraf RS Saiful Anwar Malang

Advertisements

Filed under: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: