kliping berita

Icon

Just another WordPress.com site

Stop Kriminalisasi Dokter, Part 2

Opini dari rekan dokter

PLEASE #LIKE #SHARE This Truth:

Dukun Alternatif dan Dukun Beranak tidak punya SIP tidak pernah tersangkut malpraktek. Dokter yang belajar bertahun-tahun untuk gelar profesi, melewati sekian tahap ujian kompetensi, menolong pasien yang akhirnya meninggal karena risiko medis dan komplikasi, dikatakan Malpraktek oleh praktisi hukum yang tidak mengerti duduk permasalahannya.
Semoga mereka yg mendiskreditkan profesi ini tidak akan pernah sakit dan mencari dokter….
#PrayForOurCollagues. Dr Ayu, SpOG dkk

*

[Eka E. P]

Tiga dokter kandungan, dr. A, dr. HS1 dan HS2 dinyatakan bersalah melakukan malpraktik thd perempuan Julia Fransiska Makatey. Dr. A saat ini bertugas di Balikpapan, teman Put dan 2 yuniornya masing2 dijatuhi hukuman 10 bulan penjara.

Disebutkan tgl 10 April 2010 ketiga terdakwa yg masih status bersekolah spesialis tsb melakukan operasi sectio caesaria thd korban. Krn masih sekolah sebagaimana calon2 dokter spesialis lainnya selama bekerja kurang lebih 5 tahun tentu saja mereka tak dibayar krn dianggap masa pengabdian.

Setelah operasi tiba2 pasien mengalami gagal jantung. Oleh saksi ahli diperkirakan oleh emboli/sumbatan bekuan darah/udara di paru2 shg gagal napas yg berlanjut gagal jantung. Emboli diketahui bisa tjd pd siapapun yg mengalami trauma, baik trauma fisik akibat operasi atau kecelakaan at trauma kimia dll.

Di pengadilan negeri manado ketiganya dinyatakan tak bersalah dan divonis bebas krn semua tindakan dilakukan sesuai prosedur. Akan tetapi setelah kasasi ke MA ketiganya di vonis bersalah hy krn disebutkan “tidak memberi tau tt kemungkinan pasien meninggal setelah operasi” juga dlm operasi darurat tsb tdk dilakukan pemeriksaan lengkap thd jantung dan pemeriksaan spesifik lainnya.

Semua dokter tau bahwa emboli paru tak ada hubungannya dg bentuk jantung/paru atau bahkan fungsi apapun. Bahkan anak yg khitan/sunat memiliki resiko yg sama tjd emboli paru. Dan utk melakukan pemeriksaan penunjang tambahan apalagi khusus biasanya dokter akan mempertimbangkan semua aspek, mulai waktu yg diharuskan cepat dlm keadaan darurat, untung rugi bagi pasien dan tentunya efek thd finansial pasien.

Pertanyaannya? Pantaskah dr. A, dkk dihukum penjara 10 bulan krn gagal menolong (ingat mereka tak dibayar sepeserpun!). Kalau saya yg disuruh menjawab saya akan katakan dg lantang dan jelas. Penolong yg menggunakan seluruh kemampuan terbaiknya untuk menolong dan gagal TIDAK PANTAS DIPENJARA!!!

Loh apa bedanya dg sopir yg nabrak orang dipenjara? Yo jelas beda jauh. Selama si sopir memiliki kapasitas utk menyopir (bukti SIM) dan dia menyopir dg benar tiba2 muncul seseorang yg menyerobot jalannya dan tertabrak, maka sang sopir bebas dari hukuman. Lah Afriani? Tentu saja Anda2 jauh lbh tau dari saya. Apalagi sang dokter berniat sungguh2 utk menolong! Ingat menolong!

Lalu adilkah hukuman itu? Jelas TAK ADIL! Bukan krn saya kenal baik dg ybs atau krn saya seorang dokter. Saya berkata sbg anggota masy yg peduli. Siapa yg akan menanggung kerugian akibat ketidakadilan hakim ini? Kita semua! Semua elemen bangsa ini akan dirugikan keputusan yg mungkin “melegakan” bagi sebagian orang yg senang dg kenyataan bahwa tyt “dokter bisa dipenjara” dan juga LSM ttt yg sgt gigih memperjuangkan “hukuman yg memuaskan” tsb hingga kasasi ke MA.

Apa harga yg harus dibayar :
1. Teror thd para dokter akan merugikan semua! Apakah anda puas kl Indonesia menjd smakin Amerika dg tuntut menuntutnya? Para dokter akan menjd was2 dlm menjalankan profesinya. Apakah itu baik? Ya cukup baik, tetapi tak berimbang dg kerugiannya yg sgt besar. Untung ruginya jomplang! Kerugiannya jelas akan ke pasien juga. Dokter akan melakukan praktik defensif medicine. Artinya ia akan meminta tandatangan setiap tindakan sekecil apapun serta perjanjian2 rumit lainnya. Kl si dokter tak yakin ia akan meminta seluruh pemeriksaan detil sebelum mau menolong pasien. Dan ini biayanya tentu sangat2 besar. Kl anda ke singapore cek up, meski anda sehat, mereka akan memeriksa dg “pemeriksaan canggih yg tak perlu” demi mengeruk keuntungan dan memuaskan nafsu dahaga orang2 kaya Indonesia yg paranoid thd kesehatannya.
2. Efek psikologis hub pasien dan dokter yg selama ini di wujudkan dlm bentuk rasa saling percaya akan berubah menjadi rasa saling curiga bahkan ketakutan. Ini akan merugikan semuanya.
3. Bangsa yg memilih utk menghukum penolong dan membebaskan pencuri/koruptor akan menghasilkan bangsa sakit. Bangsa yg paranoid. Tak saling percaya krn seakan2 tak ada lagi hal yg bisa dipercaya. Ini hukuman terberat yg akan kita pikul dalam membawa bangsa dg penduduk 240 juta jiwa ini menuju masa depan.

Lalu apakah dokter tak boleh dipenjara? Sebagai manusia biasa tentu saja sangat boleh. Tetapi harus digarisbawahi ; mereka dipenjara bukan karena gagal menolong!! Dokter dapat dipenjara dg syarat ketat :
1. Mereka melakukan kejahatan dg niat
2. Mereka terbukti benar2 menyalahi prosedur meskipun kesempatan, waktu dan keadaan memungkinkan utk melakukan prosedur yg tepat
3. Terlibat jelas kepentingan utk diri sendiri sang dokter dalam melakukan tindakan yg berakibat fatal eternity
4. Sekurang2nya sang dokter telah terbukti melanggar etika yg disepakati secara nyata.

Diluar itu saya akan berkata dg jelas STOP KRIMINALISASI DOKTER!!! Buat Dr. A, Dr. HS1 dan Dr. HS2, SpOG, kami bersamamu!!!

*

[Mia P]

Contoh kasus: ibu hamil mengalami distress nafas disertai fetal distress yg secara teori diperlukan pelaksanaan cito sectio caesaria. Keluarga pasien tidak ada di tempat. Apa dokter harus menunggu keluarga untuk persetujuan dgn akibat peningkatan resiko kematian sangat besar terhadap ibu dan bayi akibat penundaan sc? Atau dokter harus langsung sc tanpa menunggu keluarga?

Contoh kasus2: pasien serangan jantung mengalami edema paru akut disertai ventrikel fibrilasi yg secara teori perlu pertolongan pemasangan alat bantu nafas dan dc shock jantung. Keluarga pasien tidak ada di tempat. Apa dokter harus menunggu persetujuan keluarga untuk melakukan pertolongan tersebut dengan akibat peningkatan resiko kematian sangat besar pada pasien? Atau dokter harus langsung melakukan pertolongan tanpa menunggu keluarga?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, coba kita baca dulu pemikiran sederhana saya di bawah ini.

1. Semua tindakan di bidang medis, baik yg memiliki dasar ilmiah (kedokteran) atau yg bersifat alternatif dgn kata lain belum memiliki dasar ilmiah(contoh herbal yg belum pernah diteliti secara ilmiah, dukun) PASTI memiliki resiko. Itu sebabnya dokter tidak pernah memberikan jaminan bahwa pengobatan pasti berhasil. Yang dokter bisa berikan adalah berdasarkan penelitian maka secara statistik, contohnya penderita penyakit A dengan obat AA sembuh sebesar sekian persen, efek samping sekian persen, dsb.

2. Triage pertolongan gawat darurat dibagi dalam tingkatan hijau (gawat darurat semu=tidak gawat=rawat jalan saja), kuning (gawat darurat ringan), merah (gawat darurat berat), biru (gawat darurat mengancam jiwa). Bila pasien datang dalam tingkat biru, secara otomatis SEHARUSNYA segera dilakukan pertolongan gawat darurat.

3. TIDAK ADA dokter yg berani menjamin pasien akan pulang ke rumah dalam keadaan bernafas (sembuh, atau paliatif) atau justru berpulang ke rahmatullah (meninggal). Bukankah hak mengambil nyawa adalah milik TUHAN semata?

4. Pedoman pengobatan selalu berkembang seiring dengan berkembangnya pemahaman terhadap penyakit. Contoh, di jaman batu tidak ada yg tahu tentang hipertensi dan terapinya. Sekarang,ada pedoman baik nasional maupun internasional tentang terapinya, dan itupun masih akan terus berkembang seiring dgn kemajuan teknologi. Bagaimana dgn obat yg harus digunakan? Dokter tentunya harus terus meng-update ilmu. Bila obat yg paling baik memang tersedia dan disediakan oleh pemerintah negara kita, tentunya dokter dengan senang akan menggunakan obat itu. Bila tidak? Otomatis dokter akan menggunakan jenis obat yg lebih lama. Bagaimana dgn penyakit yg jenis obatnya baru ditemukan? Biasanya, belum ada generiknya, disediakan dalam jumlah terbatas (baik untuk pasien askes atau jamkesmas) yg pemakaianya harus mendapat persetujuan PT Askes. Lalu bagaimana bila PT Askes tidak setuju? Otomatis dokter tidak bisa menggunakanya, pasien akan diminta untuk memakai obat2an jenis lama. Karena tidak mungkin dokter membelikan obat2an dan menanggung biaya pengobatan semua pasien.

Coba, teman2 saya, baik yg dokter maupun non dokter, dipikirkan dengan baik apa jawaban kasus di atas yaa. Sesuai dengan kata hati masing2 yg dilandasi dengan akal sehat. Diskusi dibuka. Mohon advis.

*

[Niken A. Z]

Dokter menolong pasien dan terjadi komplikasi medis di luar kuasa dokter, dituntut sebagai malpraktek. Sedangkan pasien rela datang sendiri ke pengobatan alternatif, rela kehilangan uang berjuta2, lalu kembali ke dokter karena bukannya sembuh tapi malah lebih parah, kok gak pernah nuntut dukun alternatifnya??? Stop kriminalisasi dokter!

*

[Erika S]

kata mama, jd dokter itu apapun judulna pasti makan.. ha3 iya ma, makan ati.. makan gaji suami soalna gaji qta g cukup buat makan..
kata mama, jd dokter tu klo ada kesulitan pasti ditolong ma temen sejawatna.. ha3 ma, ini bu menkes, yg itunganna msh sejawat ya ma, mau mbunuh sodarana pelan2..

Advertisements

Filed under: Kemanusiaan, Kesehatan, Politik

4 Responses

  1. muhamad husni says:

    saya kurang setuju terhadap vonis kasus MA tsb, tetapi memang bisa saja seorang dokter masuk penjara klo melanggar sumpah profesinya, byk kasus dokter yg salah dalam praktik n telah lama di biarkan karena tidak ada undang2 khusus untuk mereka, misalnya menolong pasien melahirkan scr caesar tetapi alatnya ada yg tertinggal di dalam rahim, bukankah itu pantas di ajukan ke meja hijau, kasus dokter malpraktik harusnya menjadikan kehati2an oleh dokter di indonesia terutama, bukan menyebabkan ketakutan praktek dsb, saya pernah sakit di luar negeri dan waktu konsultasi malah dokternya sambil merokok, itu jelas2 contoh kesalahan fatal dalam praktik baik di sengaja ataupun tidak. kasus dokter2 yg membiarkan pasiennya karena pasien tidak cukup dana jg sering terjadi di negeri ini, mgkn byk dokter di indonesia yg orientasinya hanya uang semata, dokter adalah profesi terpuji dan seharusnya stiap dokter berhati2 saat praktek, semoga setiap dokter di Indonesia semakin profesional lagi dalam bekerja, kasus2 di atas shrsnya dijadikan pelajaran n di ambil hikmahnya saja, di negara2 maju dokter sudah sangat berhati2 plus dengan alat yg canggih tetapi tetap saja beberapa kasus bisa saja menyebabkan pasien meninggal secara tidak disengaja, adalah tugas dan kewajiban dokter untuk menolong pasien dengan kemampuan terbaik akan tetapi dokter tidak memiliki hak untuk menyembuhkannya, kesembuhan merupakan hak prerogatif Tuhan Sang Maha penyembuh, jadi tidak perlu ada kriminalisasi dokter

  2. Stalin says:

    Yaah namanya profesi, gak ada juga profesi yg kebal hukum sih, bahkan org yg berprofesi hukum sekalipun masih tunduk sama undang-undang, gak akan ada proses hukum kalau gak ada tuntutan, namanya juga proses hukum, memang harus berjalan sih, lagian mungkin rekan profesi anda tidak membaca undang undang no.29 tahun 2004 ttg praktik kedokteran, disana jelas diatur semua ttg semua langkah hukumnya, pastinya MA ada dasar juga buat vonis, yg berdasarkan uu, jangan terlalu memojokkan orang hukum lah, sama sama tidak ngerti juga kan masyarakat awam proses hukum gimana. Saling memahami aja sih

  3. clara says:

    hukum indonesia tuh memalukan banget… koruptor aja yg emang udah niat jahat ditangguhkan hukumanx hanya karena alasan “pengabdian”… Sedangkan dokter yang niatnya menyembuhkan namun TUHAN berkehendak lain malah di tuduh macam2… Praktisi hukum indonesia tuh banyak tapi kualitasnya tuh KW semua 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: