kliping berita

Icon

Just another WordPress.com site

Dok, Saya Harus Tuntut Siapa?

Wahyu Triasmara, dr.

31 juli 2013 | kesehatan.kompasiana.com

Sekitar 4 bulan yang lalu saya mendapatkan pasien seorang anak usia 7 tahun sebut saja namanya An. S yang kebetulan datang ke rumah sakit diantar oleh orang tuanya yang saat itu masih mengenakan pakaian dinasnya, orang tua terlihat panik si anak mengeluh kesakitan habis jatuh main bola disekolahan, tampak tangannya bengkak dibagian lengan kiri bawah. Menurut informasi dari orang tua sebelum dibawa ke rumah sakit anak tersebut sudah dibawa ke dukun pijat tulang yang cukup tersohor didaerahnya. Namun oleh dukun tersebut dianjurkan untuk rontgen dulu sebelum ditangani oleh sang dukun. Dalam hati saya “wah hebat sekali dukunnya, sudah seperti ahli ortopedi saja pake minta rontgen segala”, tapi yang lebih buat saya heran “kenapa orang tua anak justru tidak langsung membawanya kedokter tapi malah lebih memilih ke tempat dukun pijat”.  Ehm.. kalau begitu pasien anak ini secara tidak langsung merupakan kiriman/rujukan dukun dan kesini hanya disarankan untuk rontgen saja.

Dan… ternyata benar dugaan saya, setelah dilakukan rontgen kemudian saya bacakan hasilnya pada ayah pasien jikalau anaknya mengalami patah tulang lengan bawah (fraktur radius ulna 1/3 distal sinistra). Si ayah hanya mengangguk-angguk seolah menyepelekan dan terburu-buru pengen cepat pergi dari rumah sakit. Lalu ketika saya jelaskan untuk penanganan kasus tersebut bisa dengan beberapa cara selain dengan operasi, juga bisa dilakukan pemasangan Gibs yang akan dikerjakan oleh ahli orthopedi kami. Tiba-tiba si bapak nyeletuk, maaf dok.. kalau sudah selesai saya mau pamit sekalian mau bayar administrasinya. Saya sontak terdiam, dan cuma bs bilang… ohh, kenapa pak kok kayanya buru-buru?? saya mau bawa anak saya pada dukun pijatnya lagi, kata orang-orang disana bagus penanganannya. Dalam hati saya “wah kalah pamor nih dokternya..  tapi ya gpp mencoba ikhlas akhirnya saya persilahkan bapak itu untuk membawa anaknya pulang”.

Sekitar 4 bulan tak ada kabar, beberapa waktu lalu tiba-tiba saya kedatangan pasien anak itu lagi masih diantar oleh orang tuanya.  Saya pikir, ohh ini pasti disuruh dukunnya mau minta rontgen lagi, mau cek tulangnya sudah nyambung atau belum. Dan ternyata… tebakan saya kali ini salah.. (maklum saya bukan dukun) hehe.. ternyata si bapak mengeluhkan jari-jari tangan anaknya yang sebelah kiri tidak bisa ditekuk dan menggenggam, jadi kaku lurus tidak bisa memegang barang secara kuat. Wah dalam hati saya, kenapa bisa begitu ya ? karena penasaran langsung  saya sarankan rontgen ulang, hasilnya tulang sudah mulai menyambung namun posisi sambungannya tidak terlalu baik. Perlu diingat saat tulang patah, ajaibnya tulang tanpa diapa-apakan pun sebenarnya jika tidak begitu parah akan dapat membentuk perselubungan tulang baru, itulah ilmu yg jadi dasar dukun sangkal putung, dengan sedikit tarikan, putaran kanan kiri, tekanan atas bawah, jompa jampi, oles-oles, dipikirnya posisinya sudah pasti akan pas, akhirnya  menyambung memang namun posisinya ada yang bengkok, memendek, tidak bisa ditekuk, nyeri tak kunjung hilang dan bagian yang patah tidak bisa berfungsi sempurna.

Setelah berpikir sejenak saya putuskan untuk konsultasi pada rekan sejawat saya dr. Ortopedi dirumah sakit  mengenai kondisi anak tersebut via telpon. Beliau juga sedikit bingung karena tidak melihat kondisi pasien secara langsung, namun curiganya bkn masalah ditulangnya tapi dari syaraf dan otot/tendon dibagian tangan. Oleh sebab itu beliau menyarankan besok kembali lagi kerumah sakit untuk diperiksa secara langsung.

Benar saja keesokan harinya pasien datang kembali dan bertemu dengan dengan dokter tulang kami. Setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan kesimpulan pasien mengalami Kompartment Sindrom yaitu merupakan kondisi tekanan intertisial dalam kompartmen osteofasial tertutup, sehingga menyebabkan aliran darah berkurang sehingga otot menjadi kekurangan aliran darah dan oksigen dan akhirnya mengalami kerusakan otot permanen. Dokter menjelaskan hal ini akibat prosedur terapi yang kurang tepat, dimana dukun pijat melakukan pemasangan kayu dan kardus yang diikat pada lengan pasien terlalu kuat sehingga menyebabkan tekananan yang menggangu perfusi darah ke jaringan otot. Karena sudah kronis akhirnya jari-jari tangan menjadi sulit digerakkan dan tidak bisa menggegam. Dokter orthopedi tidak bisa menjanjikan pengobatan apa-apa dan lebih memilih untuk merujuknya ke rumah sakit dr. soetomo surabaya, bukan ke sardjito yogya atau rs tulang soeharso solo, karena menurut beliau ini merupakan kasus yang cukup berat dan penanganan yang tepat diarahkan ke surabaya yang lebih berkompeten, menurut beliau jari tangannya kemungkinan sulit bisa digerakkan kembali  seperti sedia kala.

Kasihan sekali dalam hati saya, anak sekecil itu yang masih panjang perjalanan untuk meraih masa depannya harus mengalami kecacatan fungsi anggota tubuhnya karena penanganan pengobatan yang tidak tepat. Akhirnya keluarga hanya pasrah dan berpikir ulang untuk membawa anaknya ke surabaya. Karena selama 3 bulan berobat ke Sangkal putung/dukun tulang keluarga mengaku menghabiskan dana yang tidak sedikit.  Tadinya pengen murah ke dukun tulang, tapi ternyata habisnya malah lebih banyak juga. Lalu saya tanya tapi kan bapak pegawai negeri, punya askes ?? iya dok, tapi untuk ke surabaya, biaya transport, makan, dll kan juga pastinya tidak sedikit. Yah tapi nantilah dok saya pikir-pikir lagi… Saya jawab iyalah pak demi anak, harus diperjuangkan… kasihan juga masih kecil, masih panjang masa depannya. “Semoga sejak saat saya menulis cerita ini bapak si anak sudah membawanya ke surabaya.”

Lalu iseng saya bertanya, apa bapak tidak mau menuntut pertanggung jawaban dukun tulang yang sudah membuat anak bapak cacat ?…  Siapa yang harus saya tuntut dok ? sambung si bapak… tadinya saya sempat kepikiran begitu saya labrak dan minta tanggung jawab kesana. Tapi setelah dipikir-pikir lagi itu bknlah kesalahannya, tapi lebih karena saya terlalu percaya bisikan dan saran keluarga untuk membawa ke sana, ketimbang membawanya untuk berobat pada dokter. Jadi saya pasrah aja, kalau mau nuntut juga kasihan, dukunnya juga cuma cari nafkah dan keliatanya orangnya jg ga punya apa-apa.

Dalam hati saya “wah ga punya apa2 ?? ehm duit maksudnya?? hehe.. tapi salut juga sangat mulia bapak ini karena begitu ikhlas menerima keadaan..” Lalu saya kembali berpikir “kok enak sekali ya, mereka yang menyelenggarakan pengobatan alternativ, bebas pasang papan nama, tanpa ijin, tanpa keahlian/pendidikan yang jelas, tanpa bayar pajak penghasilan,dll” bisa praktek secara bebas, bahkan sampai pasang iklan di radio-radio atau media cetak lokal menjanjikan kesembuhan yang kadang diluar kewajaran, tanpa beban dan tidak takut akan resiko tuntutan pasien. Padahal berobat ke alternativ itu juga tak selamanya berarti murah lho, justru tak jarang jatuhnya jauh lbh mahal, ga bs pakai askes, apa lg jamkesmas. Giliran ada kasus seperti ini mereka bahkan tdk bisa dituntut karena alasan kemanusiaan “mereka kan jg cari nafkah dan berusaha menolong dgn seikhlasnya”.

Coba bandingkan dengan para dokter, yang bekerja sesuai dengan prosedur, memiliki sertifikasi pendidikan dan keahlian, memiliki surat ijin resmi, membayar iuran profesi dan pajak penghasilan, bekerja berdasarkan kompetensi dan spesialisasi, bisa menggunakan askes dan jamkesmas yg 100% gratis, tidak boleh untuk pasang iklan, harus selalu updates ilmu secara berkala. Namun selalu saja dalam prakteknya selalu dibayang tuntutan-tuntutan atas tudingan tindakan malpraktik yang sering dilakukan oleh oknum-oknum tertentu. Walaupun dokter sudah bekerja sesuai protap dan prosedur, terkadang masyarakat/pasien tidak mau tahu. Jikalau terjadi sesuatu yang menurutnya merugikan pasien dengan mudahnya berkoar-koar ke media massa, mencari simpati dan pembenaran dan mengajukan tuntutan yang jumlahnya tak hanya puluhan juta, tapi beratus bahkan sampai miliaran rupiah.

Hal inilah yang seringkali tidak disadari oleh masyarakat. Bahwasanya mana ada sih dokter yang mau merugikan dirinya sendiri, dengan niat mencelakakan pasiennya. Hal itu sama saja dia mengorbankan masa depan diri dan keluarganya. Dokter bekerja dgn informed consent yg merupakan perjanjian  antara dokter dengan pasien mengenai tindakan yg sebelumnya akan dilakukan. Jadi baik / buruknya kedepan mengenai efek terapi sudah diinformasikan terlebih dahulu pada pasien maupun keluarganya. Sehingga sama2 tahu kemungkinan terbaik dan terburuk dari efek terapi tersebut.  Sehingga diharapkan baik pasien maupun keluarga memahami prosedur pengobatannya. Namun banyak lo, kasus tuntutan yang sebenarnya keluarga sudah pasrah dan ikhlas karena memang tau resikonya, tapi karena dikompor-kompori atau dihasut orang yang justru tidak tahu menahu kondisi pasien itu akhirnya terdorong untuk mengajukan tuntuan ke pengadilan.

Dokter berniat bekerja dengan ikhlas, mencari penghasilan yang halal, untuk bisa bantu menjadi perantara kesembuhan orang lain itu saja sudah cukup menyenangkan. Tapi kenapa dokter selalu jadi sasaran tuntutan? kenapa dukun pijat tidak? padahal jelas-jelas siapa yang legal/resmi dan ilegal/tidak resmi dlm memberikan pelayanan kepada pasiennya. Padahal mereka para korban malpraktek oleh dukun dan pengobatan alternativ juga tak kalah jauh lbh banyak. Namun kenapa beritanya tidak pernah/jarang muncul dimedia massa? apakah berita semacam itu tidak laik utk dijual dan tidak menarik untuk diekspose oleh media massa? Banyak sekali kalau mau diceritakan kasus yang pernah saya temui mengenai kasus kesalahan dalam pengobatan alternatif tapi tidak pernah ada yang mau lapor dan sampai sekarang pengobatannya juga masih terus jalan tanpa ada peringatan.

Terbesit dalam otak saya, kenapa dokter selalu yang jadi sasaran ya? apakah karena mereka pikir dokter itu kaya? dokter itu dipikir semua banyak duit? sehingga lebih pantas untuk dituntut atau karena memang murni tuntutan hanya ingin memberikan pelajaran bagi dokter yang mereka duga malpraktik tersebut. Ahh.. mungkin itu saya terlalu suudzon.. tapi jika memang benar demikian, betapa celakanya seorang dokter, apa lg mereka para dokter yang baru merintits karir, sudah masuk kuliahnya habis ratusan juta, pas sudah jadi dokter kena tuntut pula. Maaf, sudut pandang masyarakat tolong agar mulai dirubah, tidak semua dokter itu kaya lho. Mungkin kalau dihitung msh lbh banyak kawan-kawan saya yang kerja di pajak, bea cukai, pertambangan atau sektor swasta lainnya yang punya penghasilan berkali-kali lipat ketimbang dokter. Itu realita dan bukan cm wacana saya belaka. Tidak semua orang yg sekolah dokter itu kaya, byk diantara mereka yg terima beasiswa, tugas belajar, atau karena memang ada orang tua yang rela mengeluarkan banyak biaya walaupun dengan keterbatasan dana dengan banting tulang kerja siang malam, jual sawah, kerbau, kebun dll. hanya demi ingin sebuah kebanggaan bagi org tua krn melihat anaknya bs menjadi dokter.

Sekali lagi saya tekankan… Tidak semua dokter itu kaya, bayangkan gaji pns dokter yang hanya berkisar 2,5 jt-5 jt, gaji dokter PTT yg hanya 2 jt – 5 jt, yang mengenaskan lagi adik-adik junior saya yang diwajibkan menjalani dokter internship mengabdi dipedalaman yang hanya digaji 1,5 jt itupun sering telat bayarnya bisa 2 / 3 bulan sekali dirapel, sehingga untuk makan mereka terpaksa masih minta org tuanya. Maaf pembaca yang budiman, jangan bayangkan semua dokter itu kaya karena anda melihat “mungkin” dokter2 senior yang sudah sepuh dan mengabdi puluhan tahun memiliki pasien yang banyak  dan aset yang banyak pula atau anda bayangkan dokter spesialis yang bekerja di praktek/rumah sakit swasta yg memiliki tarif lbh mahal. Dimana-mana kalau sektor swasta pastilah berbeda dgn sektor pemerintah abdi negara. Mereka di swasta memiliki ketentuan dapat mengatur keuangannya sendiri. Tapi brp sih jumlah dokter swasta ?? msh lbh mudah dihitung ketimbang kebanyakan dokter yang bekerja utk pemerintah kok.

Kami bukan ingin kebal hukum atau bebas dari tuntutan. Kami bukan ingin masyarakat mengampuni kami yang bersalah. Kalau seumpama memang ada indikasi bersalah tentu kami rela utk dituntut, tentunya tujuannya agar jadi peringatan supaya kinerja kami kedepan lebih baik. Tujuan dari tulisan ini lbh jauh adalah bukan ingin membahas gaji atau tuntutan tuduhan malpraktek seputar dokter. Tapi ingin agar masyarakat lebih cerdas dan tidak mudah terbujuk terhadap iming-iming segala pengobatan yg mengaku alternatif, herbal, tradisional dll yang tidak jelas ijinnya, tak jelas terapis dan keahliannya. Memang tidak semua pengobatan alternativ/herbal itu tidak baik, bahkan saya pun terkadang juga mempraktekan pengobatan herbal dan pengobatan tibbun nawawi ala rasulullah kok buat pasien. Namun alhamdulillah kebetulan saya tau dasar ilmunya sehingga tidak sembarangan memberikan terapi kepada pasien. Jangan sampai pada akhirnya karena kesalahan pengobatan anda menyesal dikemudian hari, dikarenakan bukannya kesembuhan yang didapat tapi justru kecacatan bahkan kematian yang didapat.

Memang kesembuhan datangnya bukan dari dokter, dukun atau ahli2 lainya, kesembuhan datangnya dari Tuhan. Tapi manusia berusaha, manusia wajib mencari upaya pengobatan yg rasional bukan pengobatan yang hanya memberikan janji-janji kesembuhan demi meraup untung belaka. “Dokter juga manusia, dokter jg sering alpa, dokter bukan manusia yg selalu benar dan tak pernah salah. Tapi lebih dari itu saya yakin di seluruh penjuru dunia manapun tidak ada seorang dokter yg dengan sengaja menginginkan pasiennya celaka”.

Advertisements

Filed under: Kemanusiaan, Kesehatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: