kliping berita

Icon

Just another WordPress.com site

Bukan Sekadar Terapi Alternatif

Republika Online – Jumat, 07 Oktober 2011 pukul 15:14:00

laporan utama
OlehIndah Wulandari

Thibbun nabawi atau pengobatan dengan cara Nabi Muhammmad SAW menjadi ikhtiar penyembuhan bagi Muslim sejak ratusan tahun lalu. Saat ini, thibbun nabawi kembali mengemuka. Bahkan, sejumlah ahli medis berusaha mempelajari dan menyandingkannya sebagai pilihan pengobatan bagi pasiennya. 

Setidaknya hal itulah yang dilakukan dr H Briliantono M Soewarno, direktur Rumah Sakit Halimun Medical Center, Jakarta. Baginya, thibbun nabawi bukanlah pengobatan alternatif, tapi pegangan umat Islam dalam pengobatan berbagai penyakit.

Sebagai dokter, ia memang menawarkan kekhasan tersendiri dalam menangani pasien-pasiennya. Ia menggabungkan thibbun nabawi dengan tata cara kedokteran modern.

Dijelaskan, tata cara pengobatan dalam thibbun nabawi meliputi banyak hal, antara lain, rukiah, hijamah, bekam, serta obat-obatan alami (herbal). Adapun herbal yang biasa digunakan dalam pengobatan Islami adalah madu, habatussauda (jintan hitam), minyak zaitun, kurma Ajwa, dan air zam zam. “Cara yang ditawarkan ini merupakan pengobatan karunia Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW,” ujar Toni, sapaan akrab Briliantono.

Dalam hadis disebutkan, Rasulullah SAW selalu menyarankan sahabat serta umatnya berobat ke ahli yang bisa mengatasi penyakitnya. Islam memandang, sakit dan penyakit adalah akibat dari gaya dan pola hidup yang kurang baik. Hadirnya penyakit bisa juga merupakan teguran Allah atau sebagai sarana menaikkan derajat kemuliaan dan bentuk kasih sayang Allah. “Pengobatan ini sebagai bagian dari bentuk tawakal kepada Allah,” lanjut Toni.

Keampuhan dari bahan-bahan alami yang digunakan dalam proses pengobatan Islami juga tak perlu diragukan. Khasiat bahan-bahan alami itu, kata Toni, telah terbukti melalui berbagai penelitian, baik di dalam maupun luar negeri. Namun, yang paling utama, menurut Toni, adalah menerapkan cara sehat sempurna ala Rasulullah. Yakni, berbaik sangka kepada Allah dan manusia, selalu mengawali dan mengakhiri aktivitas dengan doa, selalu mengendalikan emosi, tidak iri dengan keberuntungan orang lain, serta tidak dipusingkan oleh urusan dunia.

Semua syarat tadi juga diterapkan oleh Toni Bsaat saat menangani para pasiennya yang memilih thibbun nabawi. Dalam hal ini, ia dan sang pasien selalu berada dalam keadaan wudhu. Doa meminta kesembuhan dalam bahasa Arab juga dilantunkan dengan suara keras saat merukiah. Setelah itu, kesembuhan para pasien diserahkan kembali pada kekuasaan Sang Khalik.

Dakwah dan hidayah

Sementara itu, Direktur Institut Teknologi Herbal Penawar Al Wahida (IT HPA) Indonesia Ir Tata Saputra MM merasakan ada semangat dakwah setiap kali melakukan pengobatan cara Rasulullah ini. “Ini adalah pengobatan dengan semangat dakwah, karena dari wahyu Allah dan orang-orang yang mempelajarinya seperti mendapatkan hidayah,” ujar dia.

Soal datangnya hidayah itu dia buktikan dari pengalaman pribadinya saat mengalami kelumpuhan beberapa tahun lalu. Kala itu, Tata bertekad sembuh dengan memaksimalkan pemakaian produk herbal dan memakai cara-cara pengobatan yang dihalalkan. Benar saja, ia sembuh. Setelah sembuh, ia pun berniat membagi ilmu pengobatan thibbun nabawi kepada orang awam.

“Ikhtiar dan ketakwaan menjadi kekuatan dalam thibbun nabawi,” paparnya.
Ia pun mengaku salut pada para dokter yang mau mempelajari pengobatan ala Rasulullah ini. Pasalnya, mereka memberi pilihan kepada pasien agar sembuh bermodalkan keimanan tadi. Apalagi, fakta empiris membuktikan, tata cara pengobatan thibbun nabawi sangat membantu pemulihan tubuh.

Contohnya, dalam proses penyedotan darah kotor dalam bekam. Penelitian menunjukkan,  90 persen darah yang statis lebih dari 121 hari bakal mengental. Karena itu, perlu dikeluarkan agar peredarannya lancar.

Begitu pula dalam penentuan titik-titik tubuh yang dibekam. Rasulullah, sebut Tata, tak sembarangan menentukannya. Beliau menentukan titik serta waktu khusus bekam pada interval waktu penanggalan bulan Islam ke-17 hingga ke-21. Jumlah titik bekam pun telah ditentukan secara khusus oleh Rasulullah.

Sayatan-sayatan dalam proses bekam ternyata juga menjadi dasar ilmu bedah. “Rasulullah memperkuat keyakinan umatnya bahwa semua penyakit ada obatnya melalui cara lahiriah serta spiritual sesuai syariat Islam.”Thibbun nabawi juga mengajarkan adab bagi para terapis saat menangani pasien. mulai dari berwudhu dan berdoa agar usaha pengobatannya diijabah oleh Allah SWT. Kesemuanya,  menurut Tata, untuk mencapai jalan yang husnul khatimah sebagai Muslim.

Untuk mengembangkan thibbun nabawi, HPA telah mengembangkan pendidikan pengobatan Islami ini sejak dua tahun lalu. Masyarakat umum serta dokter dapat mengikuti pendidikan ini selama tiga bulan. Sejauh ini, sudah ada lima angkatan yang dihasilkan. Mereka tersebar ke seluruh nusantara dan ke negeri jiran, seperti Brunei Darussalam dan Malaysia. ed: wachidah handasah

[http://koran.republika.co.id/koran/0/144922/Bukan_Sekadar_Terapi_Alternatif]

Advertisements

Filed under: Kesehatan, ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: