kliping berita

Icon

Just another WordPress.com site

Gagap Terorisme Media Barat

Republika Online – Rabu, 27 Juli 2011 pukul 08:41:00

Gerakan Ekstrem Kanan di Eropa (Bagian 2)

Oleh Erdy Nasrul

Tidak ada yang menduga sama sekali sang pelaku teror pengeboman kantor pemerintah di Oslo dan membantai puluhan orang di Pulau Utoya, Norwegia, Jumat (22/7) lalu adalah seorang pria kulit putih bermata biru dan berambut pirang. Dia ternyata juga bukan Muslim, tapi warga asli Norwegia pemeluk Kristen bernama Anders Behring Breivik.

Dunia baru mendapatkan kepastian itu pada Sabtu (23/7) atau setidaknya Jumat malam waktu setempat setelah Breivik tertangkap. Tapi terlambat. Koran Inggris the Sun edisi Sabtu itu sudah memajang headline bertuliskan: ‘Al Qaeda’ Massacre: 9/11 Norwegia.

Koran milik raja media Rupert Murdoch itu dengan terang-terangan menduga pelaku teror adalah agen lokal jaringan teroris Alqaidah (walau dengan tanda kutip) yang baru saja menjadi mualaf atau memeluk Islam. Media milik Murdoch lainnya di Amerika Serikat, the Wall Street Journal (WSJ), menulis editorial yang mengaitkan insiden itu dengan wabah kartun Nabi Muhammad yang menghebohkan Denmark pada 2005 lalu. Menurut WSJ, pegiat jihad memprotes kartun itu dengan keras dan menjadikan Denmark sebagai sasaran utama.

Wakil Pemimpin Redaksi Business Insider Joe Weisenthal dalam akun Twitternya menilai WSJ terang-terangan menyerang Islam. ”Tiga paragraf awal WSJ mengupas insiden Norwegia karena Alqaidah atau Islam.”

The Washington Post tidak jauh berbeda. Koran itu mengawali editorialnya dengan bertanya-tanya, apakah benar Alqaidah sebagai pihak yang harus bertanggung jawab? Yang jelas, tulis Washington Post, penyerangan itu pasti dilakukan sekelompok pegiat jihad. ”Petinggi kelompok jihad telah menyatakan penyerangan Norwegia adalah timbal balik dari ulah negara itu yang terlibat memerangi Afghanistan,” tulis kolumnis Washington Post, Jennifer Rubin, mencoba merasionalkan hubungan antara serangan jihad dan Norwegia.

Sembilan hari lalu Pemerintah Norwegia terlibat perseteruan dengan ulama garis keras lokal, Mullah Krekar, yang mendirikan kelompok Anshar al-Islam di negeri itu. Kelompok ini dicurigai sebagai cabang Alqaidah Utara Irak. Editorial Washington Post itu diakhiri dengan pesan: siapa pun harus berpikir, berperang melawan mujahid sangatlah mahal!

Meskipun jauh dari kebenaran, selama 16 jam kemudian media cetak tersebut tak juga mengakui kesalahannya. Tidak juga meminta maaf kepada pembaca. Tidak juga ada koreksi editorial. Wartawan The Atlantic James Fallows menanggapi editorial itu dalam bentuk tulisan di sebuah blog. ”Bukanlah seperti itu,” tulisnya. Janganlah terlalu cepat menghakimi siapa pelaku yang terlibat dalam insiden mematikan di Norwegia.

Seorang pembaca blog Fallows dengan inisial Ta-Nehisi menilai editorial itu sama berbahayanya dengan pelaku teror di Norwegia. Lebih parah lagi jika membenarkan yang salah. ”Editorial tersebut sangat memalukan.”

Selain media cetak, televisi Barat tampaknya juga terlalu bersemangat menghubungkan insiden Norwegia dengan Alqaidah atau kelompok Islam. Jurnalis Charlie Brooker dalam kolomnya di the Guardian mengaku hanya bisa geleng-geleng kepala menonton televisi Inggris yang menghadirkan ‘pakar teroris’. Mereka langsung membuat kesimpulan pelakunya Alqaidah atau Muslim radikal pada Jumat siang ketika bom meledak di kantor perdana menteri Norwegia.

Keterlibatan Norwegia di Afghanistan menjadi alasan logis teori itu. Ketika sorenya dilaporkan terjadi penembakan terhadap kader muda Partai Buruh di Pulau Utoya, para ‘pakar teroris’ itu menyatakan serangan tersebut meniru ‘Mumbay Attack’ di India November 2008 lalu yang dilakukan Muslim radikal asal Pakistan. Ketika diketahui pelakunya pria kulit putih, mereka menambahi teori bahwa Alqaidah kemungkinan telah merekrut operator lokal.

Sabtu paginya Brooker menonton saluran Fox News dari Amerika, lagi-lagi media milik Murdcoh. Ketika itu polisi Norwegia yang sudah menangkap Breivik menyatakan insiden itu mirip serangan di Oklahoma, AS, yang dilakukan kelompok sayap kanan Amerika pada 1995.

Mantan diplomat AS John Bolton yang dimintai tanggapan Fox News justru merasa skeptis dengan informasi resmi itu. ”Terlalu dini untuk membuat kesimpulan,” kata Bolton.

Maka, Brooker pun membuat kesimpulan bahwa media dan juga mantan petinggi Amerika itu sedang membuat petunjuk bagi publik untuk mengulas sebuah insiden terorisme. ”Asumsikan pelakunya adalah Muslim sampai sudah jelas ternyata pelakunya bukan Muslim. Bila belum ada kejelasan, tetaplah berasumsi seperti itu bahwa mereka pelakunya.”

Lucunya, setelah jelas pelakunya bukan Muslim, para ‘pakar teroris’ di televisi Inggris masih juga kembali diwawancarai dan seakan mereka kini menjadi ‘pakar ekstrem kanan’. Dosen Hubungan Internasional dan Studi Islam Universitas Georgetown, John Louis Esposito, menilai fenomena ini menunjukkan masyarakat Barat kerap mengabaikan keberadaan komunitas ekstrem di sekitarnya.

Media Barat seharusnya menyadari tragedi Norwegia tersebut adalah tanda terbukanya tabir individu dan kelompok ekstrem kanan yang selama ini luput dari perhatian. ”Selalu saja Alqaidah yang mereka fokuskan,” tulis Esposito dalam surat elektronik kepada Republika.

Ivor Gaber, profesor jurnalisme politik di City University, London, melihat ada sebuah fenomena kemalasan dan kedengkian di kalangan media. Hal ini bisa dipengaruhi oleh insiden tertentu yang terjadi pada masa lalu dan untuk menyebarkan ketakutan. ”Yang paling populer sekarang adalah teroris Islam. Jadi itu hal yang cepat diangkat tanpa berpikir ada pelaku lain.”

Guru besar studi Islam Universitas Cambridge, Timothy John Winter, memiliki tanggapan lain. Karena Eropa dan Amerika didominasi Kristen, seharusnya media mampu menunjukkan ketidakberpihakannya kepada aksi Breivik.

Mereka harus bisa memosisikan Breivik sebagai musuh bersama yang tidak disukai meskipun pria 32 tahun itu beragama Kristen. ”Mereka harus mencontoh Muslim yang menolak Alqaidah,” tulis mualaf yang punya nama baru Abdal Hakim Murad itu.

Editorial Aljazirah oleh Ibrahim Hewitt menyatakan ketika pelaku teror Norwegia bukanlah seorang Muslim, media Barat tidak lagi menghubungkan sang teroris beserta keyakinannya dengan aksi teror itu. Bahkan, Breivik tidak lagi disebut teroris, tetapi madman alias orang gila. n ed: rahmad budi harto

[http://koran.republika.co.id/koran/14/139780/Gagap_Terorisme_Media_Barat]

 

Advertisements

Filed under: Uncategorized, , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: