kliping berita

Icon

Just another WordPress.com site

Pemudi di Kursi Menteri

republika.co.id

Sabtu, 18 Juni 2011 pukul 08:40:00

Oleh Hiru Muhammad

Muda, cerdas, dan berprestasi. Itulah gambaran dari sosok Hina Rabbani Khar. Di usinya yang masih 34 tahun, perempuan kelahiran Multan, Pakistan, ini sukses terpilih sebagai Menteri Luar Negeri Pakistan.

Sebelumnya dia sempat menjabat sebagai menteri ekonomi. Hina menghuni pos barunya itu sejak 11 Februari 2011 menggantikan Makhdoom Shah Mehmood Qureshi. Sebuah capaian yang mungkin tak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Meski terlahir dari keluarga politikus, awalnya dia tidak tertarik terjun ke panggung politik. Seusai meraih sarjana di Lahore University of Management Sciences (LUMS) pada 1999, perempuan kelahiran 19 Januari 1977 ini melanjutkan kuliahnya ke University of Massachusetts, Amerika Serikat.

Dia konsisten di bidang manajemen dan berhasil meraih gelar master pada 2001. Pakistanileaders.com menulis, Hina mengawali kariernya dengan bekerja di bagian manajemen sebuah hotel di negaranya. Karier yang dikejarnya dengan penuh semangat.

Dia juga tercatat sebagai salah seorang pemilik Polo Lounge, sebuah restoran bagi kalangan elite yang populer dan terletak di Polo Grounds, Lahore. Adalah ayahnya, Ghulam Rabbani Khar, yang mengajak dia masuk ke dunia politik.

Ghulam merupakan seorang politikus. Hina juga kemenakan dari politikus ternama Pakistan, Malik Ghulam Mustafa Khar. Tak disangka, ajakan itu ternyata awal dari rentetan prestasi yang kemudian ia torehkan di gelanggang politik negara di Asia Selatan tersebut.

Tak membutuhkan waktu lama, pada pemilihan 2003, Hina yang berafiliasi dengan Pakistan Muslim League (Q) atau PML-Q lolos terpilih sebagai anggota Majelis Nasional (MNA). Prestasi yang dia ulangi lagi pada pemilihan 2008. Hanya sebelum pemilu terakhir, dia memutuskan pindah ke Pakistan People’s Party (PPP).

Hina merupakan perempuan pertama yang menyampaikan pidato anggaran di MNA pada 13 Juni 2009. Dia pernah menjadi penasihat keuangan di masa perdana menteri Shaukat Aziz (2004-2007). Dan sekarang, dia juga masih menjadi penasihat bagi Perdana Menteri Yousuf Raza Gillani. Tentu dia begitu dipercaya karena kecerdasannya, bukan karena parasnya.

Wanita yang gemar membaca dan travelling ini juga dikenal sebagai salah seorang dari 245 eksekutif ternama, tokoh masyarakat, dan intelektual di dunia yang diakui kontribusi profesional dan prestasinya dalam membentuk masa depan dunia. Sewaktu menjabat menteri ekonomi, dia bertanggung jawab terhadap segala hibah dan bantuan asing. Kementerian yang dipimpinnya itu menangani setiap proyek di Pakistan yang didanai bantuan asing.

Hina senang dengan semua pencapaiannya. Dia tak memiliki masalah apa pun sebagai wanita di dunia yang dikuasai kaum laki-laki ini. Bahkan, dia merasa ini lebih positif karena banyak pengakuan dan kesempatan yang diberikan kepadanya.

Usianya yang terbilang muda juga tidak menjadi kendala meraih posisinya sekarang. Dia selalu menjalaninya dengan serius. “Pengalaman kerja membantu mengatasi itu semua,” ujarnya.

Meski mengecap pendidikan di Amerika Serikat, nasionalisme Hina tidaklah diragukan. Dia begitu mengagumi rakyat Pakistan yang memiliki jiwa tangguh dan sabar. Dia membenci orang Pakistan yang mengganti namanya dengan nama asing. Dia pun mengecam warga Pakistan yang tidak bangga dengan tanah airnya.

Di sisi lain, Hina merasa bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan kepada dia, yaitu keluarga, desa, latar belakangnya, dan segalanya. Keragaman alam dan keramahan warga di pelosok-pelosok Pakistan membuatnya begitu mencintai negaranya. “Di Pakistan, orang dan tempatnya membuat Anda merasa diterima,” katanya.

Namun, dia merasa telah terjadi perubahan besar di negaranya dalam enam tahun terakhir yang mengarah ke modernisasi dan westernisasi. “Sekarang sulit membedakan warga di perkotaan dengan Barat,” tuturnya.

Sebagai Menlu, dia mendorong hubungan yang lebih erat dengan Afghanistan. Dia sepenuhnya mendukung Pemerintahan Afghanistan dan proses politik di dalamnya yang menjadi wewenang penuh rakyatnya. Apa yang telah dicapai selama ini merupakan hasil positif yang harus dilanjutkan di bawah rezim yang lebih demokratis.

Menurut APP.com, Hina memandang perlunya normalisasi hubungan Pakistan dengan India. Dia ingin kedua negara bertetangga ini hidup damai demi terciptanya stabilitas keamanan dan kesejahteraan di Asia Selatan. Dialog yang dibangun selama ini diharapkan bisa membawa hasil konkret.

Kendati telah meraih segudang kesuksesan di usia muda, anggota Forum Parlemen Muda (YPF) Pakistan ini tetaplah seorang yang rendah hati. Dia menganggap dirinya hanya seorang yang beruntung.

Di usianya yang masih muda, bisa jadi Hina akan mengikuti jejak almarhumah Benazir Bhutto. Tokoh Pakistan yang juga berasal dari PPP ini disumpah menjadi perdana menteri untuk kali pertama pada 1988 saat berusia 35 tahun. ed: budi raharjo

Advertisements

Filed under: Tokoh, ,

One Response

  1. ersifa says:

    kliping sepak terjang Hina Khar, diberitakan oleh The Economic Times http://economictimes.indiatimes.com/topics.cms?query=Hina%20Rabbani%20Khar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: