kliping berita

Icon

Just another WordPress.com site

Mereka tak Tercatat dalam Sejarah

Selasa, 07 Juni 2011 pukul 14:20:00

Muslim Tionghoa pernah mendirikan partai, tapi siapa sudi melacak dan mencatat sejarahnya.

Terdapat asumsi, Muslim Tionghoa di era kolonial menganut mazhab Hanafi dan tidak mengenal tiga mazhab lainnya: Hambali, Maliki, dan Syafi’i. Mereka juga tidak mengenal istilah Sunni dan Syiah.

Namun, Muhammad Ali, dalam Chinese Muslims in Colonial and Postcolonial Indonesia, Muslim Tionghoa memiliki orientasi keagamaan yang beragam. Seperti terekspresikan dalam literatur lokal, kecenderungan itu terbagi menjadi tiga, yakni kejawen atau mistisisme Jawa, Islam ortodoks, dan Islam politik.

Kecenderungan pertama direpresentasikan oleh Serat Tasawuf, atau risalah mistik. Dalam bab ‘Kawroeh Agami Islam’, buku mengajarkan agama Islam dengan mengadopsi ide-ide Jawa.

Karya literatur lainnya adalah Sjair Ilmoe Sedjati dan Sjair Nasehat. Kedua buku ini mengalami editing ulang yang dilakukan Tan Koen Swie, dan dikaitkan dengan Kyai Kiem Mas—anggota Keluarga Han yang memeluk Islam— dengan bumbu sinkretisme Jawa.

Kecenderungan kedua ditunjukkan dengan karya Sjair Tjioko dan Petjoen. Tidak ada yang tahu siapa pengarang dua karya ini. Yang pasti, buku berisi kritik atas kepercayaan takhayul masyarakat Tionghoa.

Dalam tradisi Cina, Cioko—sering disebut sembahyang rebutan—adalah upacara memberi makan arwah terlantar. Usai sembahyang, masyarakat berebut makanan yang menjadi sesajen. Sedangkan Petjoen atau Pecun, adalah pesta air untuk memperingati bunuh diri penyair Qu Yuan.

Penulis kedua buku itu menyesali masih adanya Muslim Tionghoa yang terlibat dalam upacara Sembahyang Cioko dan rebutan sesajen untuk hantu. Ia juga mengkritik keterlibaan Muslim Tionghoa dalam Pecun yang selalu diakhiri dengan mabuk-mabukan dan mengonsumsi babi.

Kecenderungan ketiga Muslim Tionghoa adalah berpolitik. Ini terlihat dari kar ya Kho Tjeng Bie yang berjudul Sjair Serikat Islam. Kumpulan puisi ini diterbitkan di Batavia kali pertama pada 1913.

‘Lagi di Kepoetaeran bilangan
Djawea,
Boemipoetra riboet dengan
Tionghowa,
Beberapa banjak melinjapkan djiwa,
Nama Sarikat djadi ketjiwa,
‘Kaoem Islam empunja bangsa,
Berpoeloe tahoen soeda merasa,
Segenap negeri kampoeng dan desa,
Seperti orang kena diseksa,’
‘Banjak kabar berita orang,
Waktoe keributan di kota Semarang,
Serikat Islam katanja terang,
Bangsa Tionghowa hendak diserang,
Perkataan demikian jang boekan
boekan… Diharap toean-toean djangan
dengarkan.’

Sarekat Islam (SI) adalah organisasi yang dibentuk pedagang dan tuan tanah Muslim untuk memperkuat posisi eko nomi umat Islam di Jawa dan melawan monopoli perdagangan masyarakat Tionghoa.

Bismillahi itoe permoelaan kalam, demikian syair itu dibuka. Kho Tjeng Bie, sang penulis, menyarankan kepada kaum Peranakan – serta orang Tiong hoa yang baru memeluk Islam – untuk meminta maat, atas nama SI, ke pada masyarakat Tionghoa non-Muslim.

Kalimat terakhir ini merupakan bentuk kritik terhadap SI yang mengobarkan semangat anti-Tionghoa. Penulisnya diduga orang SI atau simpatisan SI yang berupaya meluruskan arah perjuangan organisasi.

Di luar ketiga literatur itu, Muslim Tionghoa—menurut Denis Lombard dan Claudine Salmon dalam Islam and Chinesenes—menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Cina sejak abad ke-17. Namun, karya-karya terjemahan itu lenyap selama lebih 200 tahun, dan baru muncul kembali pada 1932.

Adalah Wang Wen-tjhing yang kali pertama memunculkannya. Kemudian diikuti Alquran terjemahan Liu Tjinpiao tahun 1943, dan terakhir karya Yang Tjung-ming tiga tahun berikutnya.

Keberagaman dalam religiusitas memperlihatkan Muslim Tionghoa telah sedemikian berbaur dengan penduduk lokal. Mereka lebih suka menggunakan bahasa Melayu, ketimbang bahasa Cina, Arab, atau Jawa. Mereka kehilangan kemampuan berbahasa Tionghoa karena berbahasa Melayu lebih menguntungkan.

Tiga kecenderungan ini merupakan gambaran umum masyarakat Tionghoa. Bahwa dalam kelompok sekecil apa pun, masyarakat Tionghoa selalu terpe cah ke dalam tiga golongan. Namun se bagai minoritas dalam minoritas, Mus lim Tionghoa relatif tidak diperhitungkan.

Belanda hanya sempat khawatir dengan pertumbuhan Muslim Tionghoa setelah pembantaian 1740. Mereka menyebut Muslim Tionghoa sebagai Getornden Chineezen, atau orang Cina yang telah berubah, dan menempatkannya di antara Chineezen dan pribumi.

Belanda menganggap hanya Tionghoa miskin yang bersedia menjadi Muslim. Faktanya memang demikian, tapi Tjan Toe Soe—seorang sinolog— dan Tjan Tjoe Siem, seorang sarjana Islam dan Kebudayaan Jawa, lahir dari keluarga kelas atas.

Keduanya belajar di Leiden, Belan da, dan nenek moyang keduanya adalah prajurit setia Pangeran Dipenogoro, dan mendapat hadiah sebidang tanah di Solo. Keduanya menurunkan generasi Muslim Tionghoa berikutnya, sampai saat ini.

Terlupakan

Di awal abad ke-20, istilah ‘bangsa’ menjadi populer di Jawa. Masyarakat Tionghoa secara umum terpecah ke dalam tiga kelompok orientasi; Kelompok Sin Po yang pronasionalis RRT, Chung Hwa Hui (CHH) pro-Belanda, dan Partai Tionghoa Indonesia (PTI) pronasionalisme Indonesia. Pertanyaannya, di mana posisi Muslim Tionghoa?

Terlalu sedikit sejarawan yang secara komprehensif menelusuri peran Muslim Tionghoa di era pergerakan ini. Menurut Sugiyanto, kata ‘bangsa’ menimbulkan kebingungan di kalangan Muslim Tionghoa. Situasi dini dipersulit dengan kerusuhan anti-Tionghoa di Kudus tahun 1918.

Lebih menyulitkan lagi ketika Semaoen, tokoh kiri Sarekat Islam (SI), memberi penekanan kepada kata ‘bangsa’. Bahwa, menurut Semaoen, pribumi yang tambah miskin dan miskin melihat mereka yang kaya— khususnya masyarakat Tionghoa— sebagai lain bangsa. Pribumi yang miskin akan selalu memperlihatkan kebencian kepada orang lain yang kaya. Mereka yang miskin dipersatukan oleh ras dan agama.

Tidak ada gerakan nasionalis yang mencoba memasukkan Tionghoa sebagai bagian bangsa Indonesia. Bahkan, pengunduran diri Tjipto Mangoenkoesomo dari Partai Nasional Indonesia (PNI) juga bisa dilihat dalam konteks ini.

Namun, kebingungan itu relatif hanya milik masyarakat Tionghoa di Pulau Jawa. Di Makassar, Ong Kie Ho— Tionghoa kelahiran Toli Toli— mendirikan Partai Tionghoa Islam Indonesia (PTII). Namun, menurut laporan Sin Tit Po, Belanda mendeportasi Ong Kie Ho ke Jawa.

PTII tanpa Ong Kie Ho tidak mati, tapi dilanjutkan oleh Tjia Goa Liem. Pada 1934, PTII membuka sekolah berbahasa Melayu dengan mata pelajaran Islam yang dibimbing Liem An Shui¡ªpopuler dengan panggilan Baba Moehamad Mas¡¯oed, peranakan Tionghoa yang menempa diri di sekolah Hadrami di Surabaya dan Al Irsyad, Batavia.

Tidak ada yang tahu aktivitas PTII sejak pembukaan sekolah. Sebelum tertelan hiruk-pikuk zaman, PTII masih sempat memublikasikan majalah bernama Wasillah di Madiun, dengan Tjoa Goan Lian dan Tan Kim Peng sebagi chief editor.

Pada tahun itu pula, Haji Yap A Siong mendirikan Persatuan Islam Tionghoa (PIT) di Medan. Ia mendapatkan tanah yang kemudian digunakan untuk mendirikan pusat pengembangan Islam. Pada 1938, anggota PIT berjumlah 4.800 orang.

Tidak ada lagi kegiatan politik Muslim Tionghoa. Abdul Karim Oey, Junus Jahja, dan tokoh-tokoh lain yang muncul kemudian, seolah menjauhkan diri dari politik. Mereka lebih suka terlibat dalam kegiatan dakwah dan sosial.

[http://koran.republika.co.id/koran/0/136561/Mereka_tak_Tercatat_dalam_Sejarah]

Advertisements

Filed under: Sejarah Indonesia,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: