kliping berita

Icon

Just another WordPress.com site

Mengapa Idiot? Mengapa Gila?

Kamis, 09 Juni 2011 pukul 14:04:00

Oleh Andi Nur Aminah

Kadar air dan tanah mengandung logam berat yang bisa mengikat yodium dalam air tanah.

Kabupaten Ponorogo terkenal dengan kesenian khasnya, Reog. Selain itu, juga dikenal sebagai kota santri dengan sejumlah pesantren, baik yang modern maupun yang masih menjalankan warisan ulama-ulama kuno.

Namun, ada sisi lain yang juga membuat kabupaten yang terletak sekitar 200 kilometer dari Surabaya ini terkenal. Ponorogo memiliki empat desa yang dilabeli sebutan ‘kampung idiot’ dan ‘kampung gila’.

Duh, sebutan tersebut kedengarannya sangat tak pantas. ‘Kampung idiot’ ada di empat desa, yakni Krebet dan Sidoharjo di Kecamatan Jambon, serta desa Karang Patihan dan Pandak di Kecamatan Balong. Sementara itu, ‘kampung gila’ adalah sebutan bagi desa Paringan, Kecamatan Jenongan.

Sebetulnya, tidak seluruh warga kampung tersebut masuk kategori idiot atau gila seperti pelabelan yang telanjur sudah melekat. Jumlahnya yang idiot hanya 0,1 persen hingga 4,1 persen dari jumlah penduduk di masing-masing desa. Sementara yang gila hanya 1,3 persen dari jumlah penduduk desa itu.

Namun tak urung perhatian kepada mereka memang menyedot perhatian. Di ‘kampung idiot’ sudah cukup banyak perhatian dan bantuan berbagai pihak bergulir, meski sifatnya musiman. Jika bantuan mengalir, para warga boleh sedikit bergembira. Namun jika sedang sepi, mereka hanya bisa gigit jari, menunggu dan menunggu bantuan dari orang lain.

Bupati Ponorogo HM Amin mengatakan, orang-orang idiot di empat perkampungan itu sudah ada sejak 30 tahun yang lalu. Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Diberdayakan, diberikan pekerjaan pun, mereka tidak bisa. “Jeleknya saja, kalau dikatakan, mereka tinggal menunggu ajal,” ujar Amin.

Amin mengatakan, perhatian dan bantuan sudah terus dilakukan di perkampungan idiot tersebut. Namun, tudingan seakan pemerintah tak berbuat apa-apa kepada warga yang mengalami keterbelakangan mental itu tetap saja bergulir.

“Kita berbuat saja tetap disalahkan, apalagi tidak melakukan apa-apa,” ujar dia. Kemiskinan berkepanjangan pernah terjadi di daerah Ponorogo. Kondisi tersebut telah membuahkan sebuah generasi yang lahir dengan kondisi sangat memprihatinkan. Sehingga, beberapa keluarga bisa ditemukan mengalami keterbelakangan mental dari generasi ke generasi turunannya. Dari kakek-neneknya, menurun ke ayah ibu, hingga anak cucu.

Wilayah Ponorogo berbatasan dengan Kabupaten Magetan dan Madiun di sebelah utara, Kabupaten Tulungagung dan Trenggalek di sebelah timur, Kabupaten Pacitan di barat daya, serta berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri di sebelah barat. Ponorogo memiliki luas wilayah 1.371,78 kilometer persegi.

Kawasan ini terbagi dalam dua subarea, yaitu dataran tinggi mencakup Kecamatan Ngrayun, Sooko, Pulung, Pudak, serta Ngebel. Sisanya berada di dataran rendah. Jumlah penduduknya sesuai data 2010 sebanyak 855.281 jiwa, ter diri atas 427.592 laki-laki dan 427.689 pe rem puan. Dari jumlah tersebut, 350.056 jiwa di antaranya termasuk masyarakat miskin yang tersebar di 305 desa dan kelurahan.

Masyarakatnya kebanyakan menggantungkan diri dari pertanian. Mata pencaharian warga adalah bertanam padi, tembakau, ubi kayu, jagung, kacang kedelai, kacang tanah, dan tebu.

Namun, kondisi tanah di wilayah Ponorogo, terutama di empat desa yang disebut kampung idiot, memang kurang subur.

Bahkan, menurut Kadis Kesehatan Ponorogo, Andy Nurdiana, setelah dila kukan penelitian terhadap kondisi air dan tanah oleh Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Surabaya pada 2010 lalu di kawasan desa tersebut, ditemukan adanya kandungan logam berat dan berbahaya. Logam berat itu adalah Pb (timah hitam) dan Hg (mercury) kurang dari 0,1 wt persen.

Selain itu, juga terdapat kandungan Cd (cadmium) dan Cr (logam berat berdaya racun tinggi) meskipun relatif kecil, yakni kurang dari 0,02 wt persen. Logam berat tersebut termasuk dalam anorganik yang bisa menyebabkan kerusakan tiroid atau kelenjar gondok. Logam berat bisa mengikat yodium dalam air tanah sehingga pada air yang diminum di kawasan tersebut kadar yodiumnya akan sangat rendah.

Dengan adanya kandungan logam berat di kawasan tersebut, berarti dalam kurun waktu berpuluh-puluh tahun lamanya, dari generasi ke generasi, warga memang telah tercemari. Dampaknya, semua mahluk hidup di kawasan tersebut otomatis ikut terkena. Artinya, hewan, tumbuhan, dan manusia yang membentuk rantai makanan juga terkena imbasnya.

Dinas Kesehatan Ponorogo telah melakukan sejumlah intervensi demi mengurai kasus-kasus keterbelakangan mental yang disebabkan Gangguan Akibat Keku rangan Yodium (GAKY). Intervensi medis telah dilakukan, di antaranya pemeriksaan klinis neurologis dan neurobehavior pada kelompok umur anak SD (kelas 1 hingga kelas 6), kelompok usia remaja, wanita usia subur, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Selain itu, juga dilakukan pengukuran antripometri, status gizi, serta tumbuh kembang dengan perhitungan capute scale pada anak usia 0-6 tahun. Itulah kasuskasus GAKY di empat desa di Ponorogo.

Upaya untuk pemenuhan kebutuhan garam beryodium untuk penderita pun terus dilakukan melalui penerbitan perda dan penegakan hukum. Daerah-daerah yang dinyatakan endemis GAKY dan banyak ditemukan kasus kretin atau kekerdilan dila kukan pemantauan garam beryodium. Daerahdaerah di sekitarnya yang memiliki tipologi yang sama terus dipantau secara intensif untuk menghindari munculnya kasus baru.

Kemiskinan yang sangat lama dan berlangsung beberapa generasi itu, juga telah memengaruhi tingkat pengetahuan, pola pikir, pola makan, dan akhirnya berpenga ruh pada kualitas hidup manusia di empat desa tersebut. Memang, kebanyakan pende rita adalah mereka yang berusia 30 tahun ke atas.

Namun, jika dikatakan tidak ada kasus baru terhadap generasi-generasi setelah 25 tahun, hal itu masih perlu diwaspadai. Kondisi lingkungan, pola hidup, dan pola pikir masyarakat desa tersebut masih perlu diintervensi. Karena itu, strategi yang dikembangkan Pemda Ponorogo, di antaranya peningkatan kualitas hidup, pengembangan laboratorium tumbuh kembang, pendirian SLB, serta pemberdayaan ekonomi produktif.

Generasi idiot yang sudah telanjur terbentuk sudah tak bisa diberdayakan lagi. Memang tak bisa diapa-apakan lagi. Tapi kami tetap memperhatikan. Kalau perlu dibuatkan satu kamp dan disediakan petugas untuk menjaga, mengurus, dan menantikan kematian mereka, ujar Bupati Amin.

Intervensi medis dan nonmedis yang dilakukan saat ini tentu dengan harapan agar generasi setelah 25 tahun kemudian akan jauh lebih baik dan mampu melahirkan keturunan yang sehat dan tak lagi menjadi penderita GAKY.


HADIRNYA SEKOLAH INKLUSIF

Anak adalah masa depan. Setiap orang tua tentu ingin menyaksikan anak-anak mereka tumbuh dan berkembang, sehat, cerdas, serta berharap bisa bermanfaat bagi kehidupan masa depannya. Tak ada orang tua yang ingin anaknya hanya terlahir, setelah itu hanya bisa seperti boneka. Jika usia mereka panjang, tak bisa berbuat apa-apa, laksana hidup segan mati tak mau.

Kasus Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) yang melahirkan orang-orang idiot di Desa Krebet, Kecamatan Jambon, Ponorogo, menjadi pelajaran. Karena itu, tak heran jika saat ini di Desa Krebet dan desa lainnya yang sudah menjadi endemis GAKY, jika ada ibu-ibu yang sedang hamil akan mendapat perhatian ekstra dari petugas.

Setelah lahir pun anak-anak mereka akan terus dipantau. Jika keterbelakangan mental ataupun pertumbuhan tak normal terjadi dalam tahap yang bisa diatasi, anak-anak tersebut diupayakan untuk tetap bersekolah.

Saat ini, di empat desa endemis GAKY, ada beberapa sekolah yang menjadi sekolah inklusif. Ini diterapkan karena di wilayah tersebut belum ada Sekolah Luar Biasa (SLB) yang bisa menampung anakanak idiot dan memiliki keterbelakangan mental.

Sebanyak 159 anak-anak usia SD yang memiliki keterbelakangan mental kini tertampung di SD negeri di Desa Pandak, Karang Patihan, dan Pandak. Masingmasing desa membuka empat SD yang menjadi sekolah inklusif.

Sebanyak 159 anak ini menyebar dari kelas 1 hingga kelas 6. Setiap hari mereka berbaur dengan anakanak normal lainnya hingga waktu sekolah berakhir pada pukul 12.00 siang.

Setelah itu, anak-anak dengan keterbelakangan mental mendapat materi pelajaran tambahan selama dua jam sebelum akhirnya mereka kembali ke rumah masing-masing.

Mereka yang terdaftar di sekolah inklusif ini tidaklah seidiot generasi-generasi sebelumnya. IQ mereka memang di bawah ratarata, tetapi masih bisa diberikan stimulus.

Kabid Dikdasmen Ponorogo, Supeno, berharap, jumlah sekolah inklusif tersebut bisa terus bertambah untuk menampung anak-anak yang berkebutuhan khusus. Siswa inklusif terbanyak saat ini tertampung di SD Negeri 4 Krebet, sebanyak 37 anak.

Kemudian, di SD Negeri 3 Karangpatihan sebanyak 25 anak, lalu di SD Negeri 1 Krebet sebanyak 21 anak. Selebihnya, menyebar dalam jumlah bervariasi. andi nur aminah

[http://koran.republika.co.id/koran/0/136723/Mengapa_Idiot_Mengapa_Gila]

 

Advertisements

Filed under: Kesehatan, Lingkungan, , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: