kliping berita

Icon

Just another WordPress.com site

BUNG PRESIDEN DARI KUBANG PUTIH

Rabu, 08 Juni 2011 pukul 13:34:00

Oleh Muhammad Subarkah

Assaat menolak dipanggil ‘Yang Mulai’. Dia meminta cukup dengan panggilan sederhana: “Bung Presiden”.

“Bung Presiden!” Panggilan ini memang terasa asing, terutama bila bangsa ini hanya mengenal Soekarno yang menjadi presiden semasa revolusi kemerdekaan. Padahal, setelah Bung Karno dan Sjafruddin Prawiranegara, ada sosok lain yang punya jabatan setingkat presiden. Dia adalah Mr Assaat, lelaki berkulit agak gelap kelahiran Kubang Putih Banuhampu, 12 Juni 1949, dan wafat pada 16 Juni 1976 di Jakarta.

Assaat dalam sejarah Indonesia perannya tak begitu jelas. Padahal, posisi dia selaku Acting Presiden Republik Indonesia pada kurun waktu Desember 1949 hingga Agustus 1950 tidak terbantahkan. Pada saat itu, posisi dia pun diakui absah. Kalangan rekannya memanggilnya “Yang Mulia Tuan Presiden”. Namun, Assaat menolaknya dengan meminta cukup dengan panggilan sederhana: “Bung Presiden”.

Assaat memang terkenal sebagai sosok sederha na. Pakar Tata Negara, Yusril Ihza Mahendra, di banyak kesempatan berulang kali menyatakan Assaat adalah presiden ketiga Indonesia setelah Soe karno dan Sjafruddin Prawiranegara. “Tapi, po sisi dia memang tak diakui. Padahal, bila tak dia kui, berarti negara ini pernah hilang keberadaannya.”

Belakangan, semangat untuk menuliskan kembali sejarah yang tercecer di masa silam menggeliat kembali. Selama ini, memang publik banyak yang mengalami amnesia atas situasi yang sebenarnya terjadi pada masa lalu bangsa Indonesia. Sejarah cenderung satu versi, penuh cerita pergolakan militer dan melupakan tokoh sipil yang begitu jelas memperjuangkan eksistensi bangsa ini. Assaat adalah salah satu sosok yang lagi-lagi ikut dilupakan.

Menurut mantan anggota DPR dan penulis buku mengenai Mosi Integral M Natsir, Lukman Hakiem, tampaknya ada dua sebab yang membuat jasa Mr Assaat terlupakan. Pertama, karena faktor dalam diri Assaat yang tak mau menonjolkan diri dan hidup sederhana. Kedua, karena kemudian Pak Assaat ikut Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra Barat.

“Dua faktor itu tampaknya menjadi pemicunya. Padahal, secara resmi Assaat saat itu merupakan pejabat Presiden Republik Indonesia hasil proklamasi 17 Agustus 1945 di Yogyakarta. Saat itu, jabatan tersebut ditinggalkan oleh Soekarno yang saat itu menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat di Jakarta,” kata Lukman Hakiem.

Dengan kata lain, lanjut Lukman, Assaat jelas berperan besar dalam menyelamatkan eksistensi Republik Indonesia. Berkat dia keberadaan negara hasil Proklamasi 17 Agustus 1945 itu tetap ada. “Saat RIS, negara ini terbagi-bagi dalam banyak negara bagian. Bahkan, Mr Moh Roem saat itu sempat kecewa dengan hilangnya eksistensi negara yang kemudian semakin kecil serta terbagi-bagi itu,” katanya.

Menurut Lukman, bila dibandingkan dengan sebab terlupakannya jasa karena faktor kesederhanaan sikap Asaat, tampaknya faktor keterlibatan dia dalam PRRI menjadi hal utama mengapa jasa dia sebagai presiden ketiga RI dilupakan. Saat itu, penulis sejarah harus dibuat linear sesuai dengan selera penguasa.

Celakanya, tak hanya rezim Soekarno yang tidak menghitung jasanya, rezim Soe harto pun bersikap sama. Tudingan sebagai pemberontak dengan tanpa melihat penyebab terjadi nya peristiwa PRRI tetap melekat hingga ak hir ha yat. Bahkan, hingga beliau wafat, usaha konkret untuk menghormati jasanya dari pihak pemerintah belum kelihatan sama sekali, ujar Lukman.

Keterlibatan Assaat dalam perjuangan kemerdekaan itu dilakukan semenjak dia bersekolah di STOVIA Jakarta. Karena jiwanya tidak terpanggil menjadi seorang dokter, ditinggalkannya STOVIA dan melanjutkan ke AMS (SMU sekarang). Dari AMS, Assaat melanjutkan studinya ke Rechts Hoge School (Sekolah Hakim Tinggi) juga di Jakarta.

Pada saat bersekolah hukum itulah, Assaat memulai masuk dalam gerakan kebangsaan. Saat itu, dia menjadi anggota organisasi pemuda Jong Sumatranen Bond. Berangkat dari organisasi ini, Assaat kemudian menduduki jabatan sebagai anggota pengurus besar dari Perhimpunan Pemuda Indonesia. Ketika Perhimpunan Pemuda Indonesia mempersatukan diri dalam Indonesia Muda, ia terpilih menjadi Bendahara Komisaris Besar Indonesia Muda.

Setelah itu, dia kemudian secara riil masuk dalam gerakan politik dengan menjadi anggota Partai Indonesia (Partindo). Dalam organisasi ini, dia bergabung dengan pemimpin Partindo lainnya, seperti Adnan Kapau Gani, Adam Malik, Amir Syarifuddin, dan lain-lainnya. Akibat menjadi anggota Partindo, salah satu profesornya di RHS yang berkebangsaan Belanda bertindak curang dengan tidak meluluskannya walaupun sudah berulang kali mengikuti ujian akhir. Tersinggung atas perlakuan itu, Assaat kemudian memutuskan diri pergi untuk melanjutkan studi hukum ke Belanda. Di Nederland kemudian Assaat memperoleh gelar Meester inderechten (sarjana hukum).

Setelah itu, gejolak pengabdiannya sebagai pejuang republik semakin tak tertahankan. Dengan bekal gelar Mr pada tahun 1939-1942, dia sempat berpraktik sebagai pengacara. Bahkan, pada masa penjajahan Jepang, Assaat sempat menduduki jabatan sebagai Camat Gambir, kemudian Wedana Mangga Besar di Jakarta.

Setelah datangnya kemerdekaan pada tahun 1946-1949, Assaat menjadi Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Dan pada Desember 1949 hingga Agustus 1950, Assaat menjadi Acting Presiden Republik Indonesia di Yogyakarta.

Nah, setelah adanya mosi integral M Natsir, negara RIS kemudian dibubarkan pada 15 Agustus 1950. Beberapa hari kemudian Bung Kar no pergi ke Yogyakarta. Di sana, dia meminta agar Assaat mengembalikan mandatnya. Dan Assaat dengan senang hati mengembalikan mandat itu. Nah, di sinilah peran Presiden MR Assaat itu, ujar Lukman.

Lukman menyatakan, bagi orang-orang yang mengenal Assaat, dia adalah pribadi yang sederhana. Hal ini dicontohkan ketika dia tidak mau dipanggil Paduka Yang Mulia. Assaat lebih memilih panggilan Saudara Acting Presiden. Karena tetap merasa canggung, akhirnya Assaat meminta, Panggil saja saya Bung Presiden.

Assaat bukan ahli pidato, dia tidak suka banyak bicara, tetapi segala pekerjaan dapat diselesaikannya dengan baik. Rahasia negara pun dipegangnya secara teguh. Dan beliau pun taat melaksanakan ibadah, tegasnya.

[http://koran.republika.co.id/koran/0/136643/BUNG_PRESIDEN_DARI_KUBANG_PUTIH]

Advertisements

Filed under: Sejarah Indonesia, Tokoh, ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: