kliping berita

Icon

Just another WordPress.com site

ASSAAT REALITAS PRESIDEN KETIGA INDONESIA

Rabu, 08 Juni 2011 pukul 13:28:00

Oleh Muhammad Subarkah

Menurut rekan-rekan seperjuangannya, yang sangat menonjol dari Assaat adalah ketenangan dalam menghadapi persoalan.

“Ayah itu pendiam dan sederhana.’’ Pernyataan ini dikatakan Lucy Assaat Bachtiar, putri Mr Assaat ketika ditanya mengenai sosok mendiang Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) itu. Karena sikap itu, Lucy pun mengaku banyak hal yang tidak bisa diketahuinya ketika diminta menceritakan apa yang pernah dialami ayahandanya.

“Apalagi saya tak suka politik. Saya hanya melihat ayah kerap merenung ketika menghadapi beberapa persoalan. Selain itu, ayah tak pernah bercerita apa pun,’’ kata Lucy lagi.

Sosok Assaat yang terlahir sebagai anak seorang penghulu (datuk) memang terasa misterius. Hampir tak ada cerita mengenai lelaki dia. Namun, segala ‘misteri’ yang meliputi Mr Assaat sedikit terjawab dengan adanya sebuah tulisan wartawan senior Soebagjo IN di sebuah harian ibu kota, sehari setelah dia meninggal, yakni pada 16 Juni 1976. Soebagijo menerangkan, perawa kan Assaat memang biasa-biasa saja seperti orang Indonesia pada umum nya. Dia juga tidak dapat digolongkan sebagai orator, ahli pidato, atau se orang ‘macan mimbar’ layaknya Bung Karno.

“Bahkan, kalau ia berpidato, nada dan gayanya terlalu lugu, tidak pernah naik turun. Nada dan gayanya datar serta polos. Ia tidak dapat beragitasi karena memang bukan agitator,’’ tulis Soebagijo.

Namun, meski sederhana dalam menyikapi persoalan kehidupan, Assaat ternyata mampu menduduki jabatan penting. Ia berhasil menduduki jabatan ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sejak 1948 sampai 1949. Posisi ini sangat strategis sebab saat itu negara proklamasi 17 Agustus benarbenar dalam posisi di ujung tanduk. Gejolak revolusi kemerdekaan membuat keadaan negara terombangambing. Ia berulang kali memimpin rapat BP KNIP yang sangat panas. Misalnya, ketika dia memimpin sidang pleno KNIP di Malang untuk membicarakan usul Presiden-Wakil Presiden dalam rangka penandatanganan naskah persetujuan Linggarjati, Assaat mampu memimpin sidang dengan baik.

Mengapa hal itu bisa dilakukan? Jawabnya karena Assaat mampu berdiri di tengah-tengah. Dengan sangat dingin dia memimpin sidang yang bergejolak layaknya seorang ‘tetua’ adat: berdiri di atas semua golongan dan pihak. Tiap partai ia beri kesempatan sepuas-puasnya untuk menyampaikan isi hatinya. Assaat dengan sabar mendengarkan dan mencari jalan keluar.

Soebagijo menulis, Assaat tak terpengaruh pada agitasi peserta sidang yang berlatar belakang berbagai partai politik. Padahal, saat itu para wakil partai yang ada dalam KNIP sudah mulai saling cakar-cakaran, bahkan saling telikung. “Tapi, dia dengan tenang memimpin sidang. ‘Saudara-saudara sidang saya buka.’ Dan, bila kemudian nanti akan mengakhiri sidang dia pun hanya berkata, ‘saudara-saudara sidang saya tutup,’’’ kisah Soebagijo.

Menurut rekan-rekan seperjuangannya, yang sangat menonjol dari Assaat adalah ketenangan dalam menghadapi persoalan. Sikap yang lain adalah kesederhanaan dalam hidup serta kedalaman perilaku religiusnya yang dalam dan luas. Sosok seperti itu satu tipe dengan tokoh penting lain, seperti M Natsir, Bahder Johan, Soekiman, dan M Roem. Apalagi, antara Assaat dan mereka hampir sebaya, kalau beda umur hanya terpaut satu dua tahun. Bahkan, Soebagijo menduga, karena ketenangannya itulah Assaat mampu terpilih menjadi ketua BP KNIP mengalahkan sosok tokoh cerdas lain, yakni Mr Sartono.

Bagi keluarganya, perilaku Assaat memang lembut. Dia tak suka bersuara keras. Dan, Assaat sebelum mengambil keputusan, pasti sudah dilalukan dengan penuh pertimbangan matang.

Putri Assaat, Lucy, lebih lanjut menceritakan sikap sang ayah memang kadang penuh misteri. Dia selalu berpikir keras sebelum mengambil tindakan. “Biasanya kalau ayah banyak pikiran, dia terlihat gelisah dengan sering termenung sendirian. Bahkan, penyakit kulitnya pun ikut kambuh.’’

“Situasi itu saya lihat ketika terjadi gejolak Pemerintahan Revolusinoner Republik Indonesia (PRRI). Ayah banyak termenung. Dia beberapa kali bertemu dengan Pak Hatta. Tampaknya keduanya bertukar pikiran untuk mencermati keadaan. Nah, saat ia memutuskan pergi masuk hutan Sumatra untuk ikut PRRI, pasti itu sudah melalui pertimbangan matang. Ayah tampaknya yakin soal itu bisa cepat diselesaikan sehingga kemudian memilih bergabung,’’ katanya.

Bila dirunut ke belakang, keberanian Assaat mengambil sikap sudah pernah dilakukan, misalnya ketika dia nekat berhenti sekolah hukum karena ada dosen Belandanya yang tetap berusaha tak meluluskannya karena terlibat dalam pergerakan nasional.

Namun, salah satu sikap yang paling fenomenal adalah keberaniannya untuk mengundurkan diri dari Partai Sosialis yang pada awal kemerdekaan sempat pecah menjadi dua: yang ‘kiri’ atau pro Amir Syarifuddin dan yang ‘kanan’ atau pro Syahrir. Assaat memilih tak memihak dan malah memilih meng undurkan diri dari partai itu. Nantinya golongan ‘kiri’ tergabung dalam Partai Komunis Indonesia dan yang ‘kanan’ menjadi Partai Sosialis Indonesia.

“Karena diam dan sikap tenang itulah, tidak banyak orang dapat menceritakan perihal kehidupan Assaat,’’ tulis Soebagijo. Padahal, Assaat jelas telah berjuang semenjak muda. Rumah dan kantor pengaca ra nya di Penjaringan dijadikan markas Barisan Pelopor. Selain itu, pada 1930-an, dia juga menjadi bendahara Pengurus Besar ‘Pemoeda Indonesia’ yang merupakan jelmaan dari Jong Su matranen Bond dan bendahara Komisi Besar Indonesia Moeda, serta menjadi pembantu kursus pemimpin Partai Indonesia atau Partindo.

Yang unik, selain pernah menjabat sebagai presiden RIS dan menteri dalam negeri, Assaat juga pernah memangku jabatan pamong praja, yakni sebagai wedono atau lurah Mangga Besar, Jakarta, semasa era penjajahan Jepang. Selain itu, dia juga pernah menjabat sebagai ketua Persatuaan Warung Indonesia (Perwabi).

Menelisik jasa Assaat, sejarawan Asvi Warman Adam, di sebuah harian ibu kota beberapa tahun silam dengan tegas menyatakan, Assaat adalah presiden ketiga Indonesia setelah Soekarno dan Sjafruddin Prawiranegara.

Ini karena bila status dia tak diakui sebagai presiden RIS, ada kekosongan dalam sejarah Indonesia bahwa RI pernah menghilang dan kemudian muncul lagi.

Selain itu, tulis Asvi, selama memangku jabatan, Assaat menandatangani statuta pendirian UGM Yogyakarta. Akibatnya, dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar UGM, Bambang Purwanto menegaskan, Menghilangkan Assaat dari realitas sejarah kepresidenan RI sama saja dengan tidak mengakui UGM sebagai universitas negeri pertama yang didirikan Republik Indonesia.


JIMLY ASSHIDDIQIE

Pakar Hukum Tata Negara

Apa saja jasa MR Assaat yang bisa dikenang hingga kini?

Oh, banyak sekali. Salah satunya adalah eksistensi negara Republik Indo nesia (RI) terus ada walaupun itu statusnya sebagai negara bagian. Dalam kurun ini status Mr Assaat adalah sebagai presiden. Dan, Mr Assaat itu juga adalah ketua Badan Pekerja (BP) Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Dalam hal ini, ia berperan besar dalam di sahkannya perjanjian Roem- Royen. Sebab, tanpa disahkan oleh BP KNIP, perjanjian itu tidak sah berlaku di dalam negeri.

Mengapa jasa seperti itu dilupakan oleh sejarah?

Ya, itulah keadaannya. Sekarang tugas para sejarawan untuk meluruskannya. Jasa Mr Assaat harus diangkat kembali supaya kita bisa memberikan penghargaan yang adil kepada para pelaku sejarah. Ketika RIS di Yogyakarta sebutan kepada Mr Assaat adalah presiden. Ini karena status RI di dalam negara Indonesia adalah sebagai negara bagian.

Selain itu, mengapa jasa Assaat diabaikan?

Tampaknya, petinggi militer yang keberatan selama ini. Mr Assaat—sama dengan Sjafruddin—melakukan oposisi terhadap kekuasaan.
Selama ini melakukan oposisi kandi musihi. Itu kultur politik kita. Karena mereka pernah melakukan oposisi terhadap pemerintah, termasuk juga dalam hal ini Pak AH Na su tion. Mereka pun dikucilkan. Jadi, siapa saja yang dipersepsikan se bagai lawan, dia tidak ditemenin. Bukan hanya oleh presidennya, melainkan juga seluruh stafnya dan semua pegawainya takut ber hubungan. Kultur kita masih seperti itu.
Jadi, sekarang setelah zaman berubah, kita harus mengungkapkan kembali kebenaran-kebenaran sejarah, seperti dalam kasus Mr Assaat ini.

Mungkinkah sejarah dan eksistensi RIS itu kita lupakan atau dianggap tak ada?

Jelas tidak bisa karena itu bagian dari sejarah. Kita jelas pernah punya periode negara kita punya RIS, walaupun itu kemudian kembali ke negara kesatuan melalui mosi Mr M Natsir. Jadi, semua fakta ini harus kita catat. Kalau kita melupakan PDRI, bisa saja kita melupakan RIS juga. Ini kanbahaya. Maka, kita tak boleh lupa.

Khusus kepada Mr Assaat, apa sebenarnya penghargaan yang pantas diberikan kepadanya?
Jadi, dia, menurut saya, juga patut diberi gelar pahlawan. Dia tidak bisa dilepas dari sejarah sebab pernah menjadi presiden Republik Indonesia sebagai negara bagian. muhammad subarkah

[http://koran.republika.co.id/koran/0/136642/ASSAAT_REALITAS_PRESIDEN_KETIGA_INDONESIA]

 

Advertisements

Filed under: Sejarah Indonesia, Tokoh, ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: