kliping berita

Icon

Just another WordPress.com site

Dukacita Hari Kesehatan Nasional 2015 : Profesi yang Dibully

Buruh tidak dibayar = Perbudakan
Dokter tidak dibayar= Pengabdian

Buruh/ anggota DPR menuntut kenaikan upah/gaji = wajar, menuntut hak dan kesejahteraan
Dokter menuntut kenaikan upah = materialistis.

Montir memperbaiki mesin hingga bagus = montir yg berjasa, karena usahanya
Dokter mengobati pasien hingga sembuh = itu karena kuasa Tuhan Yang Maha Kuasa, tak ada peran dokter disitu.

Anggota DPR dan para pejabat menerima suap = itu biasa, semua pejabat memang seperti itu.
Dokter menerima hadiah dari obat yang diresepnya = gratifikasi, usut tuntas, penjarakan.

Dukun/paranormal dalam prakteknya menyebabkan cacat/kematian= itu sudah ajalnya, terima dengan ikhlas
Dokter sudah berusaha menyelamatkan nyawa= itu kesalahannya, malpraktik, tuntut, minta ganti rugi

Pengobatan tradisional meresep obat2an yg tidak jelas isinya dan menyebabkan kerusakan tubuh-kematian= itu memang sakitnya sudah parah, sudah ajalnya
Dokter memberi obat kemudian timbul efek samping = malpraktek, pembunuh, pidanakan, tuntut, minta ganti rugi.

Ditanya-tanya orang =dijawab dengan baik, ramah
Ditanya-tanya dokter= dokternya bodoh, banyak nanya.

Banyak keanehan di NKRI kita ini, selamat hari kesehatan nasional. Jaya Terus Dokter Indonesia

 

Advertisements

Filed under: Dokter Indonesia, Kemanusiaan

Dukacita Hari Kesehatan Nasional 2015

Ditengah caci maki dan tuduhan ttg jeleknya perilaku dokter dengan gratifikasinya yg “menyebabkan” harga obat mahal, materialistisnya para dokter yg hanya memikirkan jasa medis yg “layak” dan banyaknya “tuduhan malpraktek” yg tidak jelas… teman kami, adik kami, saudara kami meregang nyawa melawan penyakit di medan pengabdian, menyusul sejawat2 lain yg lebih dulu pergi..  Read the rest of this entry »

Filed under: Dokter Indonesia, Kemanusiaan, Kesehatan, Politik

Curhat Dokter tentang BPJS #5: Gratifikasi

Yth Bapak/Ibu
Kepolisian
KPK 
Wartawan
dan Masyarakat luas.

Assalamu’alaikum wr. wb.

Beberapa hari ini, bahkan beberapa tahun terakhir tampaknya profesi yang saya geluti ini berulang kali mendapatkan cobaan. Mulai dari cercaan, hujatan dan tuduhan dari berbagai pihak mengenai bagaimana kami bekerja. Hampir seluruhnya berkaitan dengan uang, mulai dokter terkesan materialistis, masalah BPJS, sampai yang agak baru adalah masalah gratifikasi dari perusahaan obat.

Saya tidak memungkiri selalu ada oknum di semua profesi, demikian juga dengan profesi dokter. Namun, setiap mata uang pasti punya 2 sisi. Tampaknya sisi baik dari profesi dokter jarang sekali mendapatkan porsi yang setara dengan pemberitaan buruk. Saya bisa sangan mengerti, mungkin bagi wartawan ‘bad news is a good news’, namun sisi objektivitas dari sebuah pemberitaan juga tampaknya diperlukan untuk menggambarkan kondisi pelayanan kesehatan di negara ini.

Saya akan coba sedikit mengungkapkan sisi mata uang yang lain. Ilmu kedokteran selalu berkembang dan berubah, sayangnya semua perkembangan tersebut selalu berasal dari luar negara kita, sehingga siapapun profesional yang ingin meningkatkan pengetahuannya terpaksa harus menimba ilmu di luar negeri melalu simposium, workshop, fellowship dan banyak lagi cara lainnya. Sayangnya kebutuhan peningkatan ilmu yang cepat sekali ini tidak dibarengi oleh kemampuan RS tempat bekerja, maupun Pemerintah daerah/pusat dalam memberikan dukungan pendanaan.

Pernahkah bapak ibu bermimpi seorang putra bangsa berbicara di atas podium acara ilmiah internasional. Saya memimpikan itu bapak ibu sekalian, saya bermimpi seorang putra bangsa bisa menjadi salah seorang ilmuwan atau minimal dokter yg diakui oleh kalangan internasional. Alhamdulillah saat ini beberapa kali saya telah pernah mencicipi berbicara di depan orang2 bule seperti yang saya impikan walaupun baru dalam sesi ilmiah yang lebih kecil, namun mimpi tersebut tidak akan pernah padam saya akan terus berkarya demi mengharumkan nama bangsa. 
Namun untuk mencapai tingkatan itu jelas tidak mudah, bagaimana saya bisa mencapai level internasional kalau saya tidak pernah menghabiskan waktu belajar di luar negeri? Sementara perkembangan terbaru selalu berawal dari luar negri. Dalam 2 tahun terakhir, untuk mendalami bidang rekonstruksi Urethra saya menghabiskan waktu 3 bulan di India, untuk belajar Endourology saya harus keliling Singapura dan Turki. Untuk mempresentasikan data ilmiah saya harus berangkat ke Jepang, Australia dan Inggris. Apakah semua perjalanan ini dibantu oleh dana dari Pemerintah? Jangankan dana pengembangan ilmu, untuk memenuhi kebutuhan hidup saja gaji seorang dokter PNS masih jauh dari cukup. 
Sehingga bagaimana saya bisa membiayai semua perjalanan saya? Jawabannya jelas uang pribadi dan sponsor. Uang pribadi yang saya dapatkan dari pekerjaan saya di RS swasta saya sisihkan untuk kepentingan pengembangan ilmu, namun kalau hanya mengandalkan uang pribadi dalam beberapa bulan keluarga saya pasti kelaparan, sehingga saya harus akui saya dibantu oleh beberapa sponsor. Terus terang, selama ini saya tidak pernah menggunakan bantuan sponsor dalam bentuk yang tidak berkaitan dengan kegiatan ilmiah. Bayangkan berapa ratus juta yang harus saya keluarkan per tahunnya hanya untuk menjadi lebih pintar dan setara dengan bangsa2 lain di dunia.
Insya Allah saya masih bekerja dengan hati nurani saya, kepentingan pasien adalah yg saya selalu utamakan. Apakah saya dipengaruhi oleh perusahaan obat untuk menulis produknya? Saya bisa bilang tidak, obat yang saya tulis selalu karena memang ada indikasi untuk diberikan, dan itu pun disesuaikan dengan kemampuan pasien tersebut.

Bapak ibu sekalian, kalau memang kami tidak perlu berinvestasi belajar di luar negeri karena menghabiskan uang sebesar itu, maka pertanyaanya akan saya kembalikan kepada bapak ibu sekalian. Ketika manusia di negara lain bisa mendapatkan pelayanan mutakhir di negaranya, apakah manusia rakyat Indonesia harus puas dengan pelayanan kesehatan yang sudah tertinggal bertahun2 dibandingkan dengan negara lain?
Alhamdulillah hasil nyata ilmu yang saya pelajari telah saya dapatkan, banyak pasien yang awalnya menduga tidak ada harapan, namun sekarang telah menjalani hidup normal kembali. 
Pernahkan wartawan dengan sukarela memberitakan keberhasilan Transplantasi ginjal di Indonesia, pernahkan memberitakan tentang pasien2 yang berhasil diselamatkan oleh para dokter di indonesia? Pernahkah wartawan menulis sisi dokter dalam pengelolaan jasa medis dan BPJS di RS? Berita ini menjadi tidak menarik karena berita pasien BPJS ditolak atau kasus dugaan malpraktik lebih menjual dibandingkan kedua kondisi diatas.

Mari lah kita berpikir bijak, oknum memang ada, namun jangan cap kami semuanya sebagai koruptor atau kriminal hanya karena kami ingin dan butuh dibantu untuk belajar dan mengembangkan keilmuan kami demi pelayanan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Masih banyak diantara dokter Indonesia yang punya semangat yang sama dengan saya, jangan karena praduga dan aturan yang tidak berdasar masyarakat yg menjadi korban karena kami para dokter di Indonesia tidak dapat mengembangkan kemampuan dan keilmuannya. Kewajaran yang sangat relatif itu lah yang harus bisa didefinisikan dalam peraturan tanpa harus menghambat semangat setiap dokter untuk terus belajar dan berkarya. 
Kecuali Pemerintah dapat mendukung semua pendanaan dalam pengembangan profesi masing-masing dokter, maka sulit kami belajar tanpa bantuan dari beberapa pihak non-Pemerintah.

Sedikit curhat dari seorang anak bangsa yang masih bangga menjadi dokter

Wassalamualaikum wr. wb.

Paksi Satyagraha 
Anak dan cucu dari 2 orang nasionalis sejati

Read the rest of this entry »

Filed under: Dokter Indonesia, Medikolegal, Politik, ,

Rupiah Melorot, Harga Obat Siap Naik

95 persen bahan baku industri farmasi diperoleh dari impor.

Read the rest of this entry »

Filed under: Kesehatan, Politik, ,

Surat Terbuka Rieke Diah Pitaloka

Senin, 23 Maret 2015 | 11:45 | http://www.kabarumat.com

Harusnya dengan latar belakang partai yang sama tak sulit bagi Rieke untuk berkomunikasi dengan presiden RI. Uniknya, ia harus menulis sebuah surat terbuka yang menceritakan kegundahannya. Dalam surat yang bisa diakses publik itu ia menilai Jokowi telah lalai terhadap persoalaan Jamkesmas. Banyak pasien peserta Jamkesmas yang meninggal dunia karena tak tertangani dengan baik oleh pihak rumah sakit. Seakan sia-sia rakyat menjadi peserta Jamkesmas karena ketika tiba di rumah sakit mereka harus merogoh uang yang tak sedikit. Read the rest of this entry »

Filed under: Kemanusiaan, Kesehatan, Politik,

Surat Terbuka Rieke: Tagih Janji Kesehatan Jokowi

Selasa, 24 Maret 2015, 19:13 WIB | 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka mengirim surat terbuka pada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia meminta Jokowi menepati janji kampanyenya terkait kesehatan rakyat.

Surat ini dilayangkan menyusul adanya beberapa pasien yang meninggal karena tidak jelasnya jaminanan kesehatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).  Read the rest of this entry »

Filed under: Kesehatan, Politik,

Dokter Fanny Hondrö Menangis Saat Tuntut Gajinya Dibayarkan

26/03/2015 | http://www.nias-bangkit.com

TELUKDALAM, NBC — Dokter yang bekerja di lingkup Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan, dr. Fanny Hondrö, Sp.A, menangis saat menyampaikan tuntutannya soal gajinya yang belum dibayarkan Read the rest of this entry »

Filed under: Dokter Indonesia, Kemanusiaan, Kesehatan, Politik,

Jam Kerja

Jam kerja paling panjang itu antara lain adalah milik para dokter di Indonesia…. Read the rest of this entry »

Filed under: Dokter Indonesia

BPJS Kesehatan, Biaya Kapitasi Dokter Minim

Rabu, 15 Januari 2014 – 11:41 wib | lifestyle.okezone.com

BIAYA kapitasi atau jumlah pembayaran berdasarkan kepala yang terdaftar menjadi peserta Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk dokter pelayanan primer dinilai masih jauh dari memadai.

Read the rest of this entry »

Filed under: Kesehatan

Curhat Dokter tentang BPJS #4: Menakar BPJS

‘Anggota DPR menolak menggunakan BPJS..dengan alasan ndak manusiawi’

Pertanyaanya;Kenapa dulu di acc BPJS dengan nilai kapitasi yg begitu merendahkan luhurnya Profesi Dokter, Perawat, Dokter Gigi, Bidan,dan tenaga kesehatan yg lain??

Kenapa di acc pengajuan Anggaran Kesehatan dari APBN yg cuma kebagian 1% dari total APBN Indonesia Raya ini???

Anggaran 1% ini sudah bertahan begitu lama dari Presiden ke Presiden

BPJS sistem asuransi yg mengcover semua Rakyat Indonesia..
Sesuai hukum asuransi..makin luas kepesertaan, makin mencukupi untuk mengcover claim
Dan semua rakyat tanpa terkecuali di Lindungi sistem ini

titik kekecewaan kami ada pada penghargaan yg begitu rendah pada besaran kapitasi terhadap pembayaran kami selaku tenaga kesehatan

Sistem rujukan berjenjang..amat baik
Agar jumlah pasien tak menumpuk pada RS/ faskes tingkat lanjut..
Untuk penyakit ringan cukup pada faskes tingkat 1
..maka sebaran pasien akan jadi seperti piramida..
Sebab faskes tingkat lanjut (RS&RS rujukan) amat terbatas jumlahnya
Begitu juga tenaga medisnya..amat sangat terbatas

Sebelum ada skema rujukan berjenjang BPJS..
Semua pasien terutama yg digratiskan..lari menuju RS2 rujukan..akibatnya RS kewalahan..dan klaim pembiayaan kesehatan membengkak.

Tapi ..kini masih menyisakan PR
Bahwa >50% sarana kesehatan di Indonesia (RS,Klinik,dll) adalah milik Swasta
Tanpa ada swasta pemerintah kewalahan menyediakan sarana kesehatan (RS,Klinik,dll)
Meski 70% dari 1% Anggaran APBN (Anggaran yg dialokasikan APBN bagi kesehatan) ditumpahkan untuk sarana&prasarana kesehatan
(1% ini angkanya setara 2X pajak yg dihasilkan dari cukai rokok)

Bagaimana melibatkan mereka (swasta) dalam pelaksanaan BPJS ini?
Jumlah RS terbatas, ruang operasi terbatas, icu/iccu,nicu,picu terbatas..mustahil tak melibatkan swasta

Namun melibatkan dengan merangkul mereka..bukan dengan memaksakan&mengancam2
RSUD Tasik misalnya..pada akhirnya bangkrut akibat sistem BPJS ini..
Klaim yg cair dalam waktu yg lama sedangkan gaji, obat, sarana kesehatan, dll tak dapat ditunda pembayaranya berlama2

Pun tak semua klaim yg diajukan RS bisa di acc untuk dicairkan.Pengajuan klaim yg dirasa tak menenuhi prosedur akan dikembalikan ke RS..dan ini butuh waktu yg amat lama.Jadilah pembayaran klaim ada yg molor sampai 11 bulan..bayangkan 11 bulan tanpa gaji !!!

Betapa pentingnya BPJS ini harus bisa dipahami masyarakat..bagaimana menyentuh hati&membangun kesadaran mereka.Penduduk Indonesia yg jumlah Sarjananya tak sampai 10%..
Dan 70% nya orang miskin..
Dari itu 20% nya sangat miskin
80% nya tinggal di pedesaan

Banyak cara yg berkeadilan sosial ..untuk mengatasi solusi ini..tak melulu tenaga kesehatan yg dikorbankan
Tenaga kesehatan yg jumlahnya sedikit (dibanding jumlah rakyat indonesia) ini harus disebar ke pelosok..tapi bukan dengan paksaan atau ancaman
Sadar atau tidak negara ini bergantung pada mereka..
Bahkan TNI/Polri tidak perang setiap waktu..
Tenaga kesehatan (dokter,dokter gigi,perawat, bidan,dll) tiap kali mereka praktik..
Saat itulah ketahanan&kesejahteraan rakyat Indonesia di ‘tangan’ mereka

Kita sudah bahas tentang sebaran pasien berbentuk Piramida tadi..
Maka kita harus pahami bahwa faskes tingkat 1 (puskesmas,klinik,dll) haruslah prima..faskes tingkat 1 bukan hanya sebagai sarana kuratif (pengobatan), namun juga promotif (promosi kesehatan), dan preventif (pencegahan penyakit)
Jadi dokter,perawat, bidan di faskes (fasilitas kesehatan) tingkat 1 haruslah sepenuhnya/total menjalani tugasnya
Namun bila pendapatan mereka pas2an..sementara pekerjaan mereka beresiko..
Banyak dari mereka hijrah untuk sekolah spesialis atau hijrah ke kota besar..untuk meraih penghidupan lebih layak
Jadilah faskes tingkat 1 hanya sebagai batu loncatan..atau sampingan.Karena memang tak menjanjikan jaminan hidup yg mumpuni bagi masa depan mereka

Sudah dicoba untuk meningkatkan jumlah tenaga kesehatan&menyebar mereka ke sejumlah daerah yg membutuhkan dengan cara menambah kursi di fak.kedokteran..termasuk membuka fak.kedokteran baru di daerah2.
Namun ini menyisakan banyak PR yg cukup pelik. Tidak mumpuninya berbagai fak.kedokteran baru baik proses pendidikan maupun perekrutan mahasiswa baru..menghasilkan dokter2 yg kemampuanya masih amat perlu ditingkatkan sebelum terjun ke masyarakat langsung.
Pun..terkait minimnya penghasilan dokter umum..apalagi yg mengabdi di daerah..banyak dari mereka justru hijrah ke kota besar&berangkat spesialis tak lama setelah lulus jadi dokter.

Di Perancis seorang dokter umum bisa sampai datang ke rumah pasien hanya demi memberi nasihat kesehatan
..namun dengan pendapatannya sebagai dokter umum ia dapat hidup layak..rumah, kendaraan, pendidikan anak, dampaknya mereka fokus pada pekerjaanya mengobati masyarakat..tanpa mengkhawatirkan hal lain2nya..Ya itulah manfaatnya asuransi.Bila pasien sehat kapitasi utuh.Jadi dokter berusaha agar pasien sehat.

Kontras dengan Indonesia..jumlah dokter sedikit.Pasien berusaha menemui dokter spesialis.Dokter umum sepi pasien&penghargaan terhadap jasa medisnya murah..akibatnya seperti tadi..
Lari ke kota besar, ambil spesialisasi, praktik loncat2..
Ya karena pengkondisianya demikian.

BPJS adalah langkah besar kemajuan pelayanan kesehatan di Indonesia.Secara garis besar sistemnya sudah baik..
Meski ada angka2 yg perlu diperbaiki dan prosedurnya dibakukan&disederhanakan.Arah&cita2 dari bpjs pun jelas.
Agar sarana kesehatan, tarif kesehatan, tidak dikapitalisasikan&dimonopoli swasta.Hingga dapat tercipta kesehatan yg adil&merata. Semoga.
Bissmillah
Faidza azzamta fatawwakal alallahu

– Radietya Alvarabie
Dokter biasa

 

Filed under: Dokter Indonesia, Kemanusiaan, Kesehatan